KLIKINAJA – Penurunan debit air di Danau Kerinci kian terasa dampaknya bagi warga yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan tradisional. Wilayah tangkapan menyempit, jalur perahu berubah dangkal, sementara populasi ikan mulai berpindah mengikuti kondisi habitat yang baru.
Fenomena ini tak hanya memengaruhi aktivitas harian nelayan, tetapi juga memicu kekhawatiran jangka panjang terhadap keberlanjutan ekosistem danau terbesar di Jambi tersebut.
Nelayan Kehilangan Ruang Hidup di Perairan
Camat Danau Kerinci, Majazi, menuturkan bahwa penyusutan air kini bukan lagi sekadar perubahan musiman yang bisa di abaikan. Banyak nelayan terpaksa memperpanjang waktu melaut demi memperoleh hasil yang dulu bisa di dapat dalam hitungan jam.
Menurutnya, perubahan kedalaman air turut mengacaukan pola hidup ikan. Spesies yang biasa berada di area tertentu mulai sulit di temukan, membuat hasil tangkapan terus menurun dari hari ke hari.
Ia menyebut kondisi ini sudah berdampak langsung pada pendapatan rumah tangga nelayan. Untuk itu, pihak kecamatan rutin berkoordinasi dengan forum nelayan guna memetakan kerugian sekaligus menyusun langkah mitigasi jika situasi terus memburuk.
Penyebab Surut Masih Diselidik
Sementara itu, Camat Bukit Kerman Adi Putra menyampaikan bahwa hingga kini belum ada kesimpulan pasti terkait sumber utama penyusutan air danau.
Ia menilai perlu kajian lebih mendalam, baik dari aspek lingkungan maupun aktivitas manusia di sekitar kawasan perairan. Faktor cuaca, sedimentasi, hingga pengelolaan air masih menjadi variabel yang terus dikaji oleh pemerintah daerah.
Menurutnya, kehati-hatian dalam menarik kesimpulan penting agar langkah penanganan yang di ambil benar-benar tepat sasaran.
DPRD Kerinci Siapkan Hearing dengan Pengelola PLTA
Sorotan terhadap kondisi Danau Kerinci turut menguat di tingkat legislatif. DPRD Kabupaten Kerinci memastikan akan memanggil pihak pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air untuk meminta penjelasan resmi terkait pengaruh operasional terhadap debit air danau.
Wakil Ketua DPRD Kerinci, Surmila Apri Yulisa, membenarkan bahwa rapat gabungan komisi dijadwalkan berlangsung Selasa, 3 Februari 2026. Forum tersebut akan menghadirkan unsur pemerintah daerah serta perwakilan masyarakat terdampak.
Agenda ini di harapkan membuka ruang dialog terbuka mengenai keseimbangan antara kebutuhan energi dan perlindungan lingkungan.
Bagi warga nelayan di Kabupaten Kerinci, surutnya air danau bukan sekadar isu alam, melainkan ancaman nyata terhadap sumber penghidupan. Jika tidak segera di antisipasi, penurunan produktivitas perikanan berpotensi memicu tekanan ekonomi yang lebih luas.
Pemerintah daerah kini di tuntut bergerak cepat, bukan hanya mencari penyebab, tetapi juga menyiapkan solusi jangka pendek bagi nelayan yang terdampak serta strategi jangka panjang untuk menjaga kelestarian Danau Kerinci.(Tim)









