KLIKINAJA – Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Jambi pada akhir 2025 memperlihatkan dua arah yang berbeda. Nilai ekspor masih bergerak naik meski terbatas, sementara arus impor justru mengalami penurunan cukup dalam.
Data resmi Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi mencatat nilai ekspor pada Desember 2025 mencapai US$153,71 juta. Angka tersebut bertambah 0,80 persen di bandingkan November 2025 yang berada di level US$152,49 juta.
Pasar utama produk Jambi masih di dominasi negara-negara kawasan Asia dan Amerika. Lima tujuan ekspor terbesar meliputi Singapura, Malaysia, Jepang, Tiongkok, serta Amerika Serikat.
Tambang Masih Pegang Kendali Ekspor Jambi
Sepanjang 2025, sektor pertambangan tetap menjadi motor utama ekspor daerah dengan kontribusi 46,21 persen. Industri pengolahan mengikuti di posisi kedua sebesar 45,87 persen, sedangkan sektor pertanian menyumbang 7,92 persen.
Secara komoditas, pengiriman ke luar negeri masih didorong minyak dan gas bumi, minyak nabati, serta karet berikut produk turunannya. Untuk kelompok industri, minyak nabati menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 19,68 persen. Karet dan olahannya menempati urutan berikutnya sebesar 17,53 persen.
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jambi, Susiawati Kristiarini, menyebut struktur ekspor Jambi relatif tidak banyak berubah dari bulan ke bulan.
“Kalau melihat ekspor dan impor, ekspor kita masih tumbuh sekitar 0,80 persen. Secara bulanan, yang paling dominan tetap berasal dari bahan bakar mineral seperti gas alam dan batu bara,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan, sektor non-tambang juga memberi kontribusi penting terhadap stabilitas ekspor.
“Di luar pertambangan, masih ada lemak dan minyak hewan atau nabati seperti minyak kelapa sawit dan minyak inti sawit, lalu karet serta barang olahan karet. Untuk Jambi, ekspor karet masih banyak dalam bentuk TSNR,” katanya.
Impor Turun Dalam, Mesin Masih Dominan
Berbeda dengan ekspor, arus impor Jambi justru melemah cukup tajam pada Desember 2025. Nilainya tercatat US$5,80 juta, merosot 15,54 persen di bandingkan November yang masih mencapai US$6,86 juta.
Barang impor Jambi sebagian besar berasal dari Tiongkok, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Australia.
Kelompok mesin dan alat angkutan masih mendominasi struktur impor dengan kontribusi 48,96 persen. Setelahnya di susul hasil industri lainnya sebesar 41,11 persen serta bahan kimia dan sejenisnya 8,53 persen.
Menurut Susiawati, kebutuhan mesin erat kaitannya dengan aktivitas perusahaan besar di Jambi.
“Untuk impor sendiri, yang paling besar memang mesin. Biasanya berupa mesin atau pesawat mekanik yang di gunakan perusahaan-perusahaan besar di Jambi,” tuturnya.
Tak hanya mesin, sejumlah barang penunjang industri juga masih rutin masuk.
“Kontainer besi itu di pakai untuk ekspor karet. Setelah mengirim barang, biasanya kembali kosong. Bahan kimia juga cukup tinggi karena banyak industri di Jambi yang membutuhkannya,” ujarnya.
Tren ini mencerminkan struktur ekonomi Jambi yang masih bertumpu pada sektor ekstraktif dan industri berbasis komoditas. Selama harga energi dan bahan baku global stabil, ekspor Jambi di perkirakan tetap bertahan, meski pertumbuhan ke depan sangat bergantung pada di versifikasi produk bernilai tambah tinggi.(Tim)









