KLIKINAJA – Suasana duka menyelimuti Desa Hiang Lestari, Kecamatan Sitinjau Laut, Kabupaten Kerinci, Sabtu (7/2/2026). Warga berbaur dengan keluarga, mengiringi pemakaman Praka Marinir (Anumerta) Muhammad Genta Al Akbar yang gugur akibat bencana longsor di kawasan Cisarua.
Tangis tak tertahan pecah sejak jenazah tiba di kampung halaman. Almarhum kembali ke tanah kelahirannya dalam balutan bendera Merah Putih, di sambut doa dan rasa kehilangan yang mendalam dari masyarakat yang mengenalnya sejak kecil.
Bagi warga, kepergian Genta bukan sekadar duka keluarga. Ia di kenal sebagai pemuda yang memilih jalan pengabdian, meninggalkan kampung halaman demi tugas sebagai prajurit TNI Angkatan Laut. Kepulangannya kali ini menjadi perpisahan terakhir yang sarat emosi.
Prosesi Militer Penuh Kehormatan
Sebelum di makamkan, jenazah di semayamkan di Masjid Desa Hiang Lestari. Di tempat itu, keluarga besar secara resmi menyerahkan almarhum kepada pihak TNI untuk di makamkan dengan upacara militer. Prosesi persemayaman di pimpin oleh Komandan Kodim 0417/Kerinci selaku Inspektur Upacara.
Usai persemayaman, jenazah di usung menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat. Iring-iringan berjalan perlahan. Prajurit berseragam lengkap melangkah beriringan, di ikuti warga yang memadati sisi jalan sambil menundukkan kepala.
Upacara pemakaman di gelar sesuai tata kehormatan militer. Pasukan gabungan di terjunkan, terdiri atas satu Satuan Setingkat Peleton Kodim 0417/Kerinci, satu SST TNI Angkatan Laut, serta satu regu tembak salvo dari TNI AL. Dentuman salvo menggema di udara, menjadi simbol penghormatan negara atas jasa almarhum.
Duka Kolektif dan Penghargaan Negara
Prosesi tersebut di saksikan keluarga besar, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, rekan-rekan almarhum, serta warga Kecamatan Sitinjau Laut. Banyak yang tak kuasa menahan air mata saat liang lahat di tutup, menandai akhir perjalanan seorang prajurit muda.
Kepergian Praka Marinir Genta Al Akbar juga meninggalkan duka kolektif bagi masyarakat Kerinci. Dalam konteks lebih luas, peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa tugas prajurit tidak hanya sarat risiko di medan operasi, tetapi juga dalam situasi bencana alam yang kerap terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Wilayah Cisarua dan sejumlah daerah lain di kenal memiliki kerawanan longsor, terutama saat cuaca ekstrem. Peristiwa yang merenggut nyawa almarhum menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana, kesiapsiagaan personel, serta dukungan keselamatan bagi petugas di lapangan.
Setelah pemakaman, perwakilan keluarga menyampaikan apresiasi kepada TNI atas penghormatan militer yang di berikan. Bagi mereka, upacara tersebut menjadi bentuk pengakuan negara atas pengabdian dan pengorbanan almarhum hingga akhir hayat.(Tim)









