KLIKINAJA – Keluhan keras datang dari warga yang melintas di ruas jalan Nasional penghubung Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Jalan yang telah di kerok sebagai bagian dari proyek perbaikan justru di biarkan terbuka tanpa penanganan lanjutan, sehingga menyisakan permukaan tidak rata dan berbahaya bagi pengguna jalan.
Pantauan di lapangan memperlihatkan bekas kupasan aspal membentuk cekungan cukup dalam di sejumlah titik. Kondisi ini langsung di rasakan dampaknya oleh pengendara, terutama sepeda motor, yang harus menurunkan kecepatan secara tiba-tiba demi menghindari lubang. Di jam-jam sibuk, situasi tersebut kerap memicu antrean kendaraan dan meningkatkan risiko tabrakan.
Bagi warga setempat, pengerukan tanpa kejelasan waktu pengaspalan lanjutan menimbulkan tanda tanya besar. Jalan Nasional yang selama ini menjadi jalur utama aktivitas ekonomi, pendidikan, dan distribusi hasil pertanian, berubah menjadi lintasan yang menuntut kewaspadaan ekstra setiap saat.
Minim Rambu, Malam Hari Jadi Ancaman
Risiko kecelakaan melonjak saat malam tiba. Minimnya penerangan jalan umum membuat bekas kerukan nyaris tak terlihat dari kejauhan. Banyak pengendara mengaku baru menyadari adanya lubang ketika jarak sudah terlalu dekat untuk menghindar.
“Siang saja sudah rawan, apalagi malam. Jalan gelap, tiba-tiba motor sudah masuk lubang,” ujar seorang warga yang setiap hari melintas di jalur tersebut.
Kekhawatiran warga terbukti beralasan. Dalam dua hari setelah pengerukan di lakukan, tercatat dua kecelakaan lalu lintas terjadi di Desa Koto Iman.
Para korban di laporkan mengalami luka cukup serius dan harus menjalani perawatan medis. Insiden ini memperkuat anggapan bahwa pengerjaan jalan berlangsung tanpa manajemen keselamatan yang memadai.
Warga menilai, jika perbaikan belum dapat di lanjutkan, setidaknya harus di pasang rambu peringatan di setiap titik rawan serta penerangan sementara. Tanpa langkah itu, pengguna jalan seperti “di paksa bertaruh nyawa” setiap kali melintas.
“Kalau memang belum bisa di aspal, paling tidak pasang tanda bahaya di semua titik. Jangan sampai warga terus jadi korban,” tegas warga lainnya.
Desakan pun di arahkan kepada pemerintah provinsi agar segera turun tangan. Masyarakat meminta perbaikan dipercepat dan pihak kontraktor dievaluasi secara serius. Jalan Nasional, menurut warga, adalah nadi pergerakan wilayah Kerinci dan Sungai Penuh, bukan jebakan berbahaya yang di biarkan terbuka tanpa tanggung jawab.(Tim)









