KLIKINAJA – Warga di Sungai Penuh kembali di buat resah dengan kemunculan anjing liar di sejumlah titik kota. Hewan-hewan tersebut kerap terlihat di sekitar perkantoran, ruang terbuka publik, hingga ruas jalan padat kendaraan. Situasi ini memunculkan kekhawatiran, terutama bagi pejalan kaki dan pengendara yang melintas.
Aktivitas anjing liar yang bergerombol dinilai berpotensi mengganggu ketertiban dan keselamatan. Beberapa warga bahkan mengaku waswas saat beraktivitas pagi atau sore hari ketika hewan-hewan itu lebih sering muncul.
Rencana Penangkapan dan Karantina
Pemerintah kota melalui Dinas Peternakan dan Perikanan telah menyiapkan langkah penanganan. Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Aries Armen, menyampaikan pihaknya sudah menyusun skema penertiban dengan metode penangkapan dan karantina sementara.
Ia menuturkan bahwa timnya telah memetakan lokasi-lokasi yang dianggap rawan. “Kami sudah mengidentifikasi titik-titik yang sering dilaporkan warga dan menyiapkan penanganan bertahap,” kata Aries, belum lama ini.
Penangkapan itu di rancang untuk mengurangi potensi gangguan sekaligus menekan risiko gigitan yang bisa berdampak pada kesehatan masyarakat. Setelah di tangkap, anjing liar akan di tempatkan di fasilitas penampungan guna memastikan pengawasan lebih terkontrol.
Namun rencana tersebut belum berjalan optimal. Keterbatasan alat tangkap dan minimnya sarana pendukung menjadi hambatan utama di lapangan.
“Kendala kami ada pada peralatan yang belum memadai. Tanpa dukungan sarana, proses penertiban sulit di lakukan maksimal,” ujarnya.
Delapan Kasus Gigitan Tercatat
Data Dinas Peternakan dan Perikanan mencatat sepanjang 2026 terdapat delapan kasus gigitan hewan peliharaan di Sungai Penuh. Meski sebagian besar tergolong ringan, angka ini tetap menjadi alarm kewaspadaan.
Aries menegaskan bahwa pencegahan harus di lakukan sejak dini agar tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih serius. “Kasusnya memang tidak berat, tapi tetap harus di cegah agar tidak menimbulkan risiko lanjutan,” tuturnya.
Di sisi lain, tanggung jawab pemilik hewan peliharaan juga menjadi sorotan. Pemerintah mengimbau agar masyarakat tidak membiarkan anjing berkeliaran tanpa pengawasan, karena dapat memicu kecelakaan maupun konflik sosial.
Fenomena anjing liar di kawasan perkotaan sebenarnya bukan hanya terjadi di Sungai Penuh. Banyak daerah menghadapi persoalan serupa akibat kurangnya pengendalian populasi dan rendahnya kesadaran pemilik hewan. Tanpa regulasi dan pengawasan yang konsisten, populasi bisa meningkat cepat dalam waktu singkat.
Pengendalian populasi idealnya di barengi edukasi, sterilisasi, serta dukungan anggaran yang memadai. Upaya represif semata sering kali tidak cukup bila tidak di ikuti pendekatan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah dan warga menjadi faktor penentu agar lingkungan tetap aman tanpa mengabaikan aspek kesejahteraan hewan.
Dengan langkah terukur dan dukungan fasilitas yang memadai, persoalan anjing liar di Sungai Penuh di harapkan dapat segera tertangani sehingga aktivitas warga kembali nyaman.(Tim)









