Manuskrip Incung Kerinci Terungkap, Jejak Leluhur dan Batas Adat Tersibak

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 14 Februari 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KLIKINAJA – Penelitian terhadap manuskrip Incung kembali membuka tabir sejarah masyarakat Kerinci. Hasil temuan terbaru itu di paparkan dalam kegiatan diseminasi yang di gelar di Aula LP2M IAIN Kerinci pada Kamis, belum lama ini.

Agenda ilmiah tersebut di prakarsai Hafiful Hadi Sunliensyar, M.A. bersama timnya. Hadir sebagai narasumber, akademisi filologi Prof. Pramono, S.S., M.Si., Ph.D. Forum ini di ikuti pemilik naskah kuno, pemangku adat, perwakilan instansi terkait, peneliti, dosen, hingga mahasiswa yang antusias menyimak pemaparan.

Fokus kegiatan adalah mengungkap isi dan konteks sosial dari Surat Incung aksara tradisional Kerinci yang selama ini tersimpan di berbagai koleksi pusaka dan museum.

Kisah Cinta, Mantra, hingga Batas Tanah Adat

Tim peneliti menemukan bahwa manuskrip Incung tidak hanya berbentuk karya sastra. Di dalamnya terekam cerita percintaan, ratapan emosional, mantra, silsilah keluarga, hingga catatan batas tanah dan hutan adat.

Di Museum Siginjai, misalnya, terdapat tiga naskah Incung yang memuat mantra dan kisah pilu dua saudara yang merantau jauh dari kampung halaman. Manuskrip tersebut di ketahui berasal dari Koto Buayo, kawasan perbatasan Kabupaten Merangin dan Batanghari.

Baca Juga :  Honda BeAT Connected 125 2026 Hadir, Mesin Naik Kelas

Penemuan lain datang dari Desa Jujun. Dalam koleksi pusaka Depati Jujun tersimpan manuskrip berbahan tembaga yang memuat kisah leluhur Siginda Kuning dan Siginda Pandek. Di dalamnya juga tertulis pembagian batas wilayah adat serta kawasan hutan yang menjadi pedoman masyarakat setempat.

Dari Tanah Indopuro, Koto Diair, koleksi pusaka Sigumi Putih menyimpan prosa percintaan yang di tulis oleh dua penulis berbeda. Sementara itu, di Siulak Panjang, koleksi pusaka Rio Mudo dan Sirajo Matahi menyumbang dua manuskrip bertema serupa yang telah teridentifikasi dalam penelitian terbaru.

Hafiful Hadi Sunliensyar menegaskan bahwa naskah-naskah tersebut bukan sekadar peninggalan sastra lama.

“Di dalamnya tercatat silsilah, batas tanah adat, hingga norma yang menjadi pedoman hidup masyarakat. Manuskrip ini adalah arsip intelektual leluhur Kerinci,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa Surat Incung berfungsi sebagai dokumen sosial yang merekam struktur masyarakat Kerinci di masa lalu.

Perawatan Naskah dan Tantangan Pelestarian

Prof. Pramono mengingatkan bahwa manuskrip kuno menghadapi ancaman serius jika tidak di rawat secara tepat. Faktor usia, kelembapan, hingga cara penyimpanan yang keliru dapat mempercepat kerusakan.

Baca Juga :  Viral di Media, Abu Tani Akhirnya Dijenguk Tim Kesehatan Kerinci

“Tanpa upaya perawatan dan dokumentasi yang tepat, kita berisiko kehilangan sumber sejarah yang sangat berharga,” tegasnya.

Karena itu, kegiatan diseminasi tidak berhenti pada paparan akademik. Peserta juga mendapatkan pembekalan teknis mengenai perawatan sederhana, mulai dari pengaturan suhu ruang, pengendalian kelembapan, hingga teknik penanganan fisik naskah agar tidak mudah rapuh.

Dalam konteks yang lebih luas, pelestarian manuskrip Incung menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.

Aksara Incung merupakan salah satu warisan literasi tradisional Nusantara yang memperlihatkan tingkat kecanggihan masyarakat Kerinci dalam merekam hukum adat, sejarah keluarga, dan ekspresi sastra.

Dokumentasi dan digitalisasi naskah menjadi langkah yang kini semakin mendesak. Tanpa pendataan sistematis, banyak manuskrip berisiko hilang atau rusak sebelum sempat di teliti secara menyeluruh.

Kolaborasi antara akademisi, pemilik pusaka, dan tokoh adat yang terbangun dalam forum ini di harapkan berlanjut dalam bentuk penelitian lanjutan dan program konservasi berkelanjutan. Surat Incung tidak hanya menyimpan kisah masa lampau, tetapi juga menjadi fondasi memori kolektif masyarakat Kerinci yang perlu di jaga lintas generasi.(Tim)

Berita Terkait

RDTR 2026 Sungai Penuh Disiapkan, Arah Tata Kota Diperjelas
PETI Dekat Taman Rivera Park Ditindak, Polres Tebo Bakar Rakit Tambang
Ketua LSM Cakrawala Nusantara Soroti PLTA Danau Kerinci, Wacana Transmigrasi Jadi Sorotan Tajam
Wali Kota Alfin Safari Jumat di Masjid Taqwa, Perkuat Silaturahmi dan Dorong Program Prioritas
Wawako Sungai Penuh Minta ASN Jaga Kinerja Saat Ramadhan
Bupati Kerinci Lantik Pejabat Baru RSU Bukit Kerman dan RSUD Kerinci, Ini Daftar Namanya
Bungo Resmi Luncurkan Program Keluarga Unggul, 30 UMKM dan Guru Ngaji Dapat Dukungan
Sore Ini, Pemkab Kerinci Lantik Pejabat Baru, Struktur RSUD Tipe C Diperkuat
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 17:00 WIB

Manuskrip Incung Kerinci Terungkap, Jejak Leluhur dan Batas Adat Tersibak

Sabtu, 14 Februari 2026 - 16:00 WIB

RDTR 2026 Sungai Penuh Disiapkan, Arah Tata Kota Diperjelas

Sabtu, 14 Februari 2026 - 13:00 WIB

PETI Dekat Taman Rivera Park Ditindak, Polres Tebo Bakar Rakit Tambang

Sabtu, 14 Februari 2026 - 10:00 WIB

Ketua LSM Cakrawala Nusantara Soroti PLTA Danau Kerinci, Wacana Transmigrasi Jadi Sorotan Tajam

Sabtu, 14 Februari 2026 - 09:15 WIB

Wali Kota Alfin Safari Jumat di Masjid Taqwa, Perkuat Silaturahmi dan Dorong Program Prioritas

Berita Terbaru

Nasional

THR ASN 2026 Rp 55 Triliun, Cair Awal Ramadan

Sabtu, 14 Feb 2026 - 19:00 WIB

Bisnis

Spek Mobil Polytron Bikin Pasar Otomotif RI Bergetar

Sabtu, 14 Feb 2026 - 18:00 WIB