KLIKINAJA – Bulan Ramadhan selalu menghadirkan denyut religius yang terasa lebih kuat di banding bulan lainnya. Umat Islam tidak hanya menjalankan puasa sebagai kewajiban, tetapi juga berupaya mengisi hari-hari dengan ibadah tambahan yang memperdalam makna spiritual dan kepedulian sosial.
Para ulama menekankan empat amalan utama yang di anjurkan selama Ramadhan, yakni memperbanyak membaca Al-Qur’an (tilawah), meningkatkan sedekah terutama dengan memberi makan orang berbuka, menghidupkan malam melalui shalat sunnah, serta melaksanakan i’tikaf di sepuluh hari terakhir. Keempatnya menjadi pilar penguat kualitas puasa, baik secara pribadi maupun sosial.
Ramadhan sendiri di kenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an. Momentum ini mendorong umat Islam untuk kembali akrab dengan kitab suci, bukan sekadar membaca, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tilawah dan Sedekah, Dua Nafas Kepedulian
Di berbagai masjid, tadarus Al-Qur’an selepas shalat tarawih menjadi pemandangan yang lazim. Anak-anak hingga orang tua duduk melingkar, membaca ayat demi ayat secara bergiliran. Tradisi ini bukan hanya menjaga budaya religius, melainkan juga membangun kedekatan emosional dengan Al-Qur’an.
Pada saat yang sama, aktivitas berbagi makanan berbuka puasa meningkat tajam. Pembagian takjil gratis di pinggir jalan, santunan untuk kaum dhuafa, hingga program iftar bersama menjadi wujud nyata semangat berbagi.
Memberi makan orang yang berpuasa di yakini memiliki pahala besar. Dalam ajaran Islam, orang yang menyediakan hidangan berbuka akan memperoleh ganjaran setara dengan orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala pihak yang menjalankannya. Praktik ini memperlihatkan bagaimana Ramadhan menggerakkan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Fenomena ini juga berdampak pada peningkatan partisipasi lembaga zakat dan komunitas sosial. Penghimpunan dana sedekah biasanya melonjak selama bulan suci, menandakan tumbuhnya kesadaran kolektif untuk membantu sesama.
Qiyamul Lail dan I’tikaf di Pengunjung Ramadhan
Malam Ramadhan menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid-masjid ramai oleh jamaah tarawih, lalu sebagian melanjutkan dengan shalat tahajud, taubat, maupun hajat. Qiyamul lail menjadi ruang hening untuk bermunajat, memohon ampunan, dan merefleksikan diri.
Memasuki sepuluh malam terakhir, intensitas ibadah meningkat. Banyak umat Islam memilih berdiam diri di masjid melalui i’tikaf, sebuah praktik ibadah dengan fokus memperbanyak doa, dzikir, dan introspeksi. Mereka berharap dapat menjumpai malam Lailatul Qadar, malam yang di yakini lebih baik dari seribu bulan.
Sejumlah masjid besar bahkan menyediakan fasilitas khusus bagi jamaah yang ingin i’tikaf penuh selama sepuluh hari terakhir. Aktivitas ini menunjukkan bagaimana Ramadhan tidak hanya membentuk kedisiplinan spiritual, tetapi juga melatih konsistensi dalam ibadah.
Di luar empat amalan utama tersebut, umat Islam juga di anjurkan menjaga lisan dari perkataan kasar dan ghibah, menyegerakan berbuka serta mengakhirkan sahur sesuai sunnah, memperbanyak dzikir dan istighfar, hingga menebar salam dan mempererat silaturahmi.
Ramadhan pada akhirnya menjadi ruang pendidikan karakter. Ia melatih kesabaran, menumbuhkan empati, dan membangun kepedulian.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembentukan pribadi yang lebih sabar, dermawan, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.(Tim)









