KLIKINAJA – Menjelang Ramadan 2026, harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Jambi bergerak melemah. Penurunan terjadi pada periode 13–19 Februari 2026 dan paling terasa pada kelompok tanaman dengan usia produktif.
Hasil rapat penetapan harga yang di gelar Dinas Perkebunan Provinsi Jambi menunjukkan, TBS untuk usia 10–20 tahun kini di hargai Rp3.598,16 per kilogram. Angka tersebut turun Rp45,52 di banding periode 6–12 Februari 2026 yang sempat menyentuh Rp3.643,58 per kilogram.
Koreksi ini muncul setelah pekan sebelumnya harga sempat menanjak dan memberi harapan bagi pekebun di tengah tingginya biaya pupuk, perawatan, serta ongkos distribusi.
Harga Usia Produktif Turun Setelah Sempat Menguat
Kelompok usia 10–20 tahun di kenal sebagai fase paling optimal dalam menghasilkan buah. Karena itu, perubahan harga pada rentang ini selalu menjadi perhatian utama petani.
Pada awal Februikuari, tren sempat menunjukkan penguatan yang di nilai cukup membantu arus kas kebun rakyat. Namun memasuki pekan kedua bulan ini, grafik kembali melandai. Meski penurunannya tidak drastis, selisih puluhan rupiah per kilogram tetap berdampak signifikan bagi petani dengan luasan lahan besar.
Situasi ini memperlihatkan bahwa harga sawit masih sangat di pengaruhi dinamika pasar, baik domestik maupun global.
Rincian Lengkap Harga TBS Periode 13–19 Februari 2026
Penetapan kali ini juga memuat daftar harga berdasarkan umur tanaman. Berikut rinciannya:
Usia 3 tahun: Rp2.801,77/kg
Usia 4 tahun: Rp2.999,03/kg
Usia 5 tahun: Rp3.136,43/kg
Usia 6 tahun: Rp3.267,03/kg
Usia 7 tahun: Rp3.349,37/kg
Usia 8 tahun: Rp3.421,27/kg
Usia 9 tahun: Rp3.488,20/kg
Usia 10–20 tahun: Rp3.598,16/kg
Usia 21–24 tahun: Rp3.491,58/kg
Usia 25 tahun: Rp3.334,46/kg
Untuk komponen turunan, harga Crude Palm Oil (CPO) di tetapkan Rp14.423,27 per kilogram. Sementara minyak inti sawit atau kernel berada di angka Rp12.470,91 per kilogram, dengan Indeks K sebesar 94,35 persen.
Dampak bagi Petani dan Prospek Jelang Ramadan
Ramadan biasanya di ikuti peningkatan kebutuhan rumah tangga, termasuk konsumsi produk berbasis minyak nabati. Harapan sebagian petani, permintaan yang menguat dapat menopang harga di tingkat kebun.
Namun pergerakan komoditas ini tidak hanya di tentukan pasar lokal. Faktor ekspor, nilai tukar rupiah, hingga kebijakan negara tujuan turut memengaruhi pembentukan harga CPO yang menjadi acuan TBS.
Di Jambi, sawit masih menjadi tulang punggung ekonomi ribuan kepala keluarga. Setiap fluktuasi, sekecil apa pun, berdampak langsung pada pendapatan petani. Karena itu, kepastian harga dan stabilitas pasar tetap menjadi perhatian utama menjelang bulan suci.(Tim)









