KLIKINAJA – Jagat media sosial di hebohkan oleh video seorang bocah laki-laki di Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang memilih membawa pulang makanan dari masjid untuk sang nenek. Video itu pertama kali di unggah akun Instagram @masjidpemudaalhamra dan telah di tonton lebih dari satu juta kali.
Dalam rekaman berdurasi sekitar 1 menit 27 detik tersebut, bocah bernama Adit tampak memegang makanan yang di bagikan di masjid. Saat di tanya kenapa tidak langsung menyantapnya, ia menjawab lirih bahwa makanan itu ingin ia berikan kepada neneknya di rumah.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan memakannya karena ingin sang nenek yang menikmati. Meski sudah di bujuk untuk menyisakan sebagian, Adit tetap menggeleng pelan dan bersikeras membawanya pulang.
Sikapnya sederhana, tapi sarat makna. Di usia yang masih belia, ia sudah memahami arti berbagi dan menempatkan kebutuhan orang lain di atas dirinya sendiri.
Mengandalkan Bantuan Tetangga
Keterangan dalam video menyebutkan keseharian Adit tak lepas dari bantuan warga sekitar. Untuk makan malam, ia sering menunggu pemberian tetangga. Bahkan pagi harinya, ia mengaku tidak selalu sempat sarapan.
Marbot masjid sempat membujuknya agar makan lebih dulu. Perekam video terdengar mencoba meyakinkan Adit bahwa makanan untuk neneknya tetap ada, sehingga ia bisa menyantap satu porsi untuk dirinya.
Namun Adit tetap pada pendiriannya. Ia lebih tenang ketika makanan itu bisa dibawa pulang.
Fenomena ini sekaligus memperlihatkan peran lingkungan sekitar. Kepedulian tetangga dan pengurus masjid menjadi penopang bagi keluarga kecil tersebut. Di banyak daerah, solidaritas semacam ini masih menjadi penyangga utama warga prasejahtera ketika kebutuhan pokok belum sepenuhnya terpenuhi.
Kisah Haru Sang Nenek dan Keterbatasan Ekonomi
Dalam video terpisah, sang nenek menceritakan kehidupan mereka yang jauh dari kecukupan. Ia mengaku sering meminta Adit untuk memakan makanan yang di dapat dari masjid.
Menurutnya, cucunya kerap menawarkan lebih dulu apakah ia ingin makan. Sang nenek justru meminta Adit yang menghabiskan, karena merasa dirinya sudah lebih sering menikmati lauk tersebut di banding sang cucu.
Ia menjelaskan bahwa setelah membayar kontrakan dan membeli beras, sisa uang kadang hanya cukup untuk membeli lauk sederhana. Sesekali mereka membeli setengah kilogram ayam, bahkan tak jarang hanya bagian kepala.
Untuk kebutuhan harian, nasi dengan garam atau kecap menjadi menu biasa. Bagi mereka, yang terpenting adalah bisa makan, bukan soal rasa.
Di tengah kondisi itu, sang nenek sempat berharap ada pihak yang bersedia membantu mengurus Adit agar masa depannya lebih terjamin. Namun Adit memilih tetap tinggal bersamanya. Ia tidak ingin berpisah, meski kehidupan mereka serba terbatas. Biaya untuk memasukkan ke pesantren pun belum mampu mereka penuhi.
Kisah Adit menjadi cerminan realitas yang masih di alami sebagian keluarga di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik beberapa tahun terakhir menunjukkan masih ada rumah tangga yang hidup dalam keterbatasan pangan dan penghasilan tidak tetap. Di tengah situasi tersebut, ketahanan keluarga dan dukungan sosial menjadi faktor penting yang membantu mereka bertahan.
Video ini bukan sekadar konten viral. Ia membuka ruang empati publik sekaligus mengingatkan bahwa di balik angka statistik kemiskinan, ada wajah-wajah kecil yang berjuang dengan cara paling tulus.(Tim)









