KLIKINAJA – Memasuki Ramadan 2026, volume sampah harian di Kota Sungai Penuh, Jambi, mengalami kenaikan cukup signifikan. Pada hari normal, timbunan sampah berkisar 40 hingga 50 ton per hari. Namun selama bulan puasa, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 50 sampai 60 ton per hari.
Kenaikan ini paling terasa pada sore menjelang berbuka. Aktivitas masyarakat meningkat tajam, terutama di pusat jajanan takjil dan pasar Ramadan. Deretan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjual makanan dan minuman berbuka turut mendorong bertambahnya sampah, baik dari sisa hidangan maupun kemasan sekali pakai seperti plastik dan styrofoam.
Kepala Bidang Persampahan dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Dinas Lingkungan Hidup Kota Sungai Penuh, Azan Putra, mengatakan lonjakan tersebut merupakan pola yang berulang setiap tahun. Menurutnya, Ramadan selalu diiringi peningkatan aktivitas ekonomi dan konsumsi warga.
“Setiap Ramadan volume sampah memang naik. Kegiatan masyarakat lebih ramai, khususnya di kawasan pasar takjil dan pusat jajanan,” ujar Azan Putra belum lama ini.
Fenomena ini tak hanya terjadi di Sungai Penuh. Sejumlah daerah lain di Indonesia juga menghadapi tantangan serupa setiap Ramadan, ketika pola belanja dan konsumsi rumah tangga meningkat. Momentum berbuka bersama hingga kebiasaan membeli makanan dalam jumlah lebih banyak menjadi faktor pemicu tambahan.
DLH Siagakan 13 Armada Pengangkut
Mengantisipasi potensi penumpukan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sungai Penuh mengoperasikan 12 unit armada pengangkut sampah setiap hari. Satu unit tambahan turut disiapkan sebagai armada cadangan untuk mempercepat pengangkutan di titik-titik yang rawan terjadi penumpukan.
Langkah ini di ambil agar kebersihan kota tetap terjaga dan tidak mengganggu kenyamanan warga dalam menjalankan ibadah puasa. Pengangkutan di fokuskan pada area pasar, pusat kuliner Ramadan, dan lingkungan padat penduduk yang mengalami peningkatan produksi sampah.
Azan Putra mengingatkan bahwa upaya pemerintah tidak akan maksimal tanpa dukungan masyarakat. Ia meminta warga lebih disiplin dalam membuang sampah dan mulai membiasakan pemilahan antara sampah organik dan anorganik.
“Kebersihan kota adalah tanggung jawab kita bersama. Mari kita jaga Sungai Penuh tetap bersih dan nyaman, terutama di bulan yang penuh berkah ini,” tegasnya.
Di sisi lain, momentum Ramadan sebenarnya bisa menjadi titik balik dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Warga dapat mulai mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai dengan membawa wadah sendiri saat membeli takjil. Penggunaan tas belanja ramah lingkungan dan pengomposan sisa makanan juga bisa membantu menekan volume sampah harian.
Jika kesadaran kolektif ini tumbuh, peningkatan sampah musiman setiap Ramadan tidak lagi menjadi beban besar bagi kota. Sungai Penuh pun bisa tetap bersih, sehat, dan nyaman sepanjang bulan suci.(Tim)









