KLIKINAJA, SUMBAR – Fenomena kemunculan lubang amblas di Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, berubah menjadi magnet bagi warga. Bukan hanya untuk melihat dari dekat, banyak pengunjung justru datang dengan membawa botol dan jeriken, berniat mengambil air yang muncul dari dasar lubang tersebut.
Keyakinan bahwa air dari lubang itu mampu memberi manfaat kesehatan menyebar cepat dari mulut ke mulut. Sejumlah warga percaya air tersebut dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit, meski belum ada keterangan medis maupun penelitian ilmiah yang mendukung anggapan tersebut.
Wali Jorong Tepi, Salmi, membenarkan bahwa arus kedatangan pengunjung masih berlangsung hingga kini. Hampir setiap hari, warga dari dalam dan luar daerah berdatangan silih berganti ke lokasi.
Menurut Salmi, pada awal kemunculannya, masyarakat mengambil air langsung dari dalam lubang. “Situasi itu kemudian memunculkan kekhawatiran baru, mengingat kondisi tanah di sekitar sinkhole mulai menunjukkan retakan yang cukup serius,” katanya.
Ia menyebutkan, struktur tanah di sekitar lubang tidak stabil dan berpotensi membahayakan keselamatan warga. Karena itu, pengambilan air secara langsung kini tidak lagi dianjurkan demi menghindari risiko longsor atau amblas susulan.
Keyakinan Warga Disorot, MUI Ingatkan Bahaya Khurafat
Fenomena tersebut mendapat perhatian serius dari Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar. Ia menilai keyakinan terhadap khasiat air sinkhole tanpa dasar keilmuan merupakan bentuk asumsi yang menyesatkan.
Menurut Buya Gusrizal, mempercayai suatu benda memiliki manfaat medis tanpa penelitian atau kajian dari ahlinya bukanlah sikap yang rasional.
“Pandangan semacam itu, justru membuka ruang bagi kesalahpahaman yang lebih luas di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kecenderungan sebagian warga yang mulai mengaitkan air jernih tersebut dengan unsur gaib. Dalam pandangan Islam, perkara gaib tidak boleh di sandarkan pada dugaan atau perasaan semata, melainkan harus memiliki dasar wahyu yang sahih.
Buya Gusrizal menegaskan, keyakinan terhadap kekuatan gaib suatu benda tanpa landasan syariat masuk dalam wilayah khurafat.
“Jika keyakinan itu berkembang menjadi sandaran harapan, maka dapat menyeret seseorang pada praktik syirik yang di larang keras dalam ajaran Islam,” sebutnya.
Asal-usul Sinkhole Masih Dikaji Tim Geologi
Di sisi lain, penyebab kemunculan lubang amblas tersebut masih dalam tahap pendalaman. Fungsional Penyelidik Bumi Ahli Muda Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumatera Barat, Dian Hadiyansyah, menyampaikan dugaan awal terkait fenomena tersebut.
Ia menjelaskan, kawasan Jorong Tepi berada di wilayah batu gamping atau batu kapur yang di kenal memiliki banyak saluran air di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya sungai bawah tanah yang atapnya bisa runtuh sewaktu-waktu.
“Proses pelarutan batu kapur oleh air dalam jangka panjang dapat menggerus struktur penyangga di bawah tanah. Ketika daya dukungnya melemah, tanah di bagian atas berpotensi amblas, terlebih kawasan tersebut merupakan area persawahan yang tergolong basah,” kata Dian.
Meski indikasinya mengarah ke sinkhole, Dian menegaskan pihaknya belum menyimpulkan secara pasti. “Kajian lanjutan masih di perlukan untuk memastikan jenis dan karakter lubang tersebut, sekaligus menentukan langkah mitigasi yang tepat,” tutupnya.
Fenomena ini pun menjadi pengingat penting bagi masyarakat agar bersikap lebih bijak. Keselamatan jiwa dan keteguhan akidah perlu berjalan seiring, tanpa di kaburkan oleh keyakinan yang tidak berpijak pada ilmu maupun ajaran agama.(Tim)









