KLIKINAJA – Keluhan nyeri sendi masih kerap di sama ratakan sebagai rematik. Di banyak kasus, anggapan itu keliru. Dua kondisi yang paling sering tertukar adalah asam urat dan rematik atau rheumatoid arthritis.
Keduanya sama-sama menyerang sendi, namun berasal dari proses penyakit yang berbeda dan membutuhkan penanganan yang tidak sama.
Kesalahan mengenali jenis penyakit sendi bukan perkara sepele. Terapi yang tidak sesuai bisa membuat keluhan berulang, bahkan mempercepat kerusakan sendi. Karena itu, memahami perbedaan mendasar asam urat dan rematik menjadi langkah awal sebelum memutuskan pengobatan.
Berawal dari Penyebab yang Berbeda
Asam urat muncul ketika kadar asam urat dalam darah melebihi batas normal. Kondisi ini memicu terbentuknya kristal tajam yang mengendap di persendian dan menimbulkan nyeri hebat. Serangan sering berkaitan dengan pola makan tinggi purin, konsumsi alkohol, hingga faktor keturunan.
Rematik memiliki mekanisme berbeda. Penyakit ini termasuk gangguan autoimun, ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang lapisan sendi sendiri. Proses tersebut menimbulkan peradangan jangka panjang yang perlahan merusak struktur sendi dan jaringan di sekitarnya.
Pola Nyeri yang Bisa di Kenali
Asam urat di kenal dengan serangan mendadak. Nyeri bisa muncul tiba-tiba, sering pada malam atau dini hari, dengan rasa sakit menusuk dan sulit di tahan. Umumnya hanya satu sendi yang terdampak, terutama jempol kaki, pergelangan kaki, lutut, atau siku.
Sebaliknya, rematik berkembang lebih pelan. Nyeri dan bengkak biasanya menyerang sendi secara simetris, seperti kedua pergelangan tangan atau jari-jari tangan. Kekakuan di pagi hari menjadi ciri khas dan dapat berlangsung lebih dari satu jam sebelum sendi terasa lebih lentur.
Gejala Penyerta yang Kerap di Abaikan
Pada asam urat, sendi yang terkena tampak merah, terasa panas, membengkak, dan sangat sensitif saat di sentuh. Keluhan ini bisa mereda setelah beberapa hari, lalu kambuh di waktu lain.
Rematik tidak hanya berdampak pada sendi. Banyak penderita merasakan kelelahan berkepanjangan, demam ringan, hingga penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Dalam jangka panjang, rematik juga berisiko menyebabkan perubahan bentuk sendi bila tidak di tangani sejak dini.
Diagnosis Menentukan Arah Pengobatan
Pemeriksaan medis menjadi kunci pembeda. Asam urat dapat dikenali melalui tes darah untuk mengukur kadar asam urat atau pemeriksaan cairan sendi. Rematik memerlukan pemeriksaan yang lebih kompleks, termasuk tes darah khusus dan pencitraan sendi guna melihat tingkat peradangan serta kerusakan.
Dokter menegaskan, strategi pengobatan kedua penyakit ini tidak bisa di samakan. Asam urat di kendalikan dengan menurunkan kadar asam urat dan mengatur pola makan, sementara rematik membutuhkan terapi jangka panjang untuk menekan aktivitas sistem imun.
Pemahaman yang tepat membantu pasien mengambil keputusan lebih bijak. Saat nyeri sendi sering kambuh, di sertai bengkak atau kekakuan berkepanjangan, pemeriksaan ke tenaga medis menjadi langkah paling aman agar pengobatan tidak melenceng dari akar masalah.(Tim)









