KLIKINAJA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat hingga sangat lebat di sertai angin kencang yang di perkirakan melanda berbagai wilayah Indonesia pada 14–15 Desember 2025. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem tersebut.
Situasi ini berpotensi memicu cuaca ekstrem, terutama di wilayah barat dan tengah Indonesia, serta sebagian kawasan timur.
Dalam keterangannya, BMKG mengimbau masyarakat untuk rutin memantau pembaruan prakiraan cuaca melalui kanal resmi, seperti aplikasi InfoBMKG dan akun media sosial @infoBMKG. Langkah ini di nilai penting agar aktivitas harian dapat di rencanakan dengan lebih aman.
Selain hujan berintensitas tinggi, BMKG juga mengingatkan adanya risiko angin kencang yang dapat memicu pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, hingga gangguan transportasi. Warga di imbau menghindari aktivitas di area terbuka saat hujan di sertai petir dan tidak berteduh di bawah pohon atau bangunan yang kondisinya kurang kokoh.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi cuaca adalah keberadaan Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia barat Lampung. Sistem ini di perkirakan tidak berdampak langsung, namun mampu meningkatkan suplai uap air yang memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah.
Selain itu, Bibit Siklon Tropis 93S yang terpantau di Samudra Hindia selatan Pulau Sumba turut berkontribusi terhadap pembentukan daerah perlambatan angin atau konvergensi. Kondisi tersebut mendorong pertumbuhan awan hujan secara lebih intens dan meluas.
BMKG menilai kedua sistem tersebut menjadi pemicu utama peningkatan curah hujan dalam periode pertengahan Desember ini.
Dari sisi global, Dipole Mode Index (DMI) tercatat berada pada angka -0,63. Nilai ini menunjukkan peningkatan potensi pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah Indonesia bagian barat, akibat meningkatnya suplai uap air dari Samudra Hindia.
Kondisi ini di perkuat oleh suhu muka laut yang relatif hangat di beberapa perairan strategis, seperti pesisir barat Sumatera, perairan selatan Nusa Tenggara Timur, serta wilayah perairan Papua. Suhu laut yang hangat berperan besar dalam meningkatkan energi pembentukan awan hujan.
Sementara itu, fenomena El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dengan indeks Nino 3.4 sebesar -0,45 dan Southern Oscillation Index (SOI) +2,7 di nilai berada dalam kategori netral. BMKG menyebut kondisi ini tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan hujan di wilayah Indonesia bagian timur.
Pada skala regional, aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuator turut terdeteksi aktif di sejumlah perairan Indonesia. Kedua gelombang atmosfer tersebut berkontribusi terhadap peningkatan potensi hujan di berbagai daerah.
Hujan sedang–lebat berpotensi terjadi di Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Pegunungan, dan Papua.
Hujan lebat–sangat lebat di prakirakan melanda Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua Selatan.
Hujan sedang–lebat berpeluang terjadi di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.
Hujan lebat–sangat lebat di prakirakan melanda Sumatera Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.









