KLIKINAJA – Rentetan angin kencang disertai gelombang tinggi terus mengguncang wilayah perairan pesisir Kabupaten Tanjung Jabung Timur sejak penghujung Januari hingga awal Februari. Situasi ini membuat aktivitas nelayan nyaris lumpuh, terutama mereka yang biasa mencari ikan di laut lepas.
Ketinggian ombak yang mencapai lebih dari dua meter menjadikan laut berubah menjadi kawasan berisiko. Banyak perahu memilih tetap bersandar di bibir pantai. Sebagian nelayan bahkan mengalihkan mata pencaharian sementara ke sungai dan perairan dangkal demi tetap memperoleh penghasilan.
Yadi, nelayan yang bermukim di Kecamatan Sabak Timur, menggambarkan kondisi perairan yang sudah tak ramah untuk di layari.
“Gelombang sekarang bisa sampai dua meter lebih. Daripada ambil risiko tenggelam, lebih baik kami mencari ikan di perairan dangkal atau tidak melaut sama sekali,” ujarnya.
Ia menuturkan, cuaca ekstrem seperti ini sebenarnya bukan hal baru bagi nelayan pesisir timur Jambi. Pola musim yang datang hampir setiap tahun memaksa mereka menyiapkan rencana cadangan untuk bertahan hidup.
“Ada yang sementara menggantung jaring dan fokus mengurus kebun. Ada juga yang tetap mencari ikan, tapi hanya di sungai atau rawa yang lebih aman,” katanya.
Meski beberapa nelayan memiliki kapal besar dan peralatan modern, Yadi menegaskan bahwa teknologi tak selalu mampu menaklukkan alam.
“Cuaca sekarang susah dintebak. Ombak besar terus, siang malam sama saja. Kalau di paksakan, nyawa taruhannya,” tegasnya.
Kondisi serupa di rasakan Udin, nelayan asal Kuala Jambi. Ia memilih menepi bersama kelompoknya sambil memanfaatkan waktu untuk merawat alat tangkap.
“Kami manfaatkan waktu ini untuk memperbaiki jaring dan kapal. Ini memang risiko pekerjaan kami sebagai nelayan, sudah biasa,” tuturnya singkat.
Cuaca ekstrem tak hanya berdampak pada keselamatan nelayan, tetapi juga menggoyang rantai pasokan ikan di pasar tradisional. Ikan hasil tangkapan laut mulai sulit di temukan. Lapak pedagang kini lebih banyak di isi ikan sungai dan hasil perairan dangkal, sementara beberapa jenis ikan laut favorit warga perlahan menghilang dari peredaran.
Fenomena ini kerap muncul saat angin barat mencapai puncaknya. Data pola musim menunjukkan bahwa periode Januari hingga Februari memang menjadi masa paling rawan bagi nelayan pesisir timur Sumatra. Kecepatan angin meningkat drastis, memicu gelombang tinggi yang berbahaya bagi perahu kecil.
Di tengah situasi tersebut, warga pesisir berharap kondisi cuaca segera berangsur stabil. Kembalinya nelayan ke laut bukan hanya soal ekonomi keluarga, tetapi juga menentukan ketersediaan pangan laut bagi masyarakat luas.(Tim)









