KLIKINAJA – Permukaan Danau Kerinci terus merosot drastis dalam beberapa pekan terakhir, mengubah kawasan perairan yang selama ini menjadi sumber kehidupan warga menjadi hamparan lumpur kering. Penyusutan yang terjadi di nilai jauh lebih cepat dari siklus kemarau biasa dan kuat di duga berkaitan dengan uji coba operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kerinci.
Dampaknya merambat langsung ke dapur ribuan keluarga di sekitar danau. Nelayan tradisional kehilangan hasil tangkapan, pencari kerang kesulitan mencari nafkah, sementara sektor wisata nyaris berhenti total.
Di sejumlah titik, perahu-perahu kecil tak lagi bisa merapat ke bibir danau. Alat tangkap yang biasa di pasang di perairan dangkal kini menganggur karena ketinggian air tak mencukupi.
Zul, nelayan asal Pendung Talang Genting, mengatakan penurunan air kali ini memukul lebih keras di banding tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya surut pelan dan kami masih bisa cari ikan. Sekarang cepat sekali, hasil tangkapan hampir habis,” ujarnya.
Jika sebelumnya ia bisa membawa pulang hingga sepuluh kilogram ikan per hari, kini penghasilannya merosot tajam. Banyak nelayan bahkan memilih tidak melaut karena biaya operasional tak sebanding dengan hasil.
Kondisi serupa di alami Ida, pencari kerang yang selama bertahun-tahun bergantung pada dasar Danau Kerinci. Lumpur yang mengeras membuat kerang sulit di temukan, sementara air yang dangkal membatasi ruang kerja.
“Sekarang sering pulang tanpa apa-apa. Kalau dulu selalu ada yang bisa dijual,” katanya.
Pendapatan harian yang biasanya menopang kebutuhan rumah tangga kini menghilang, memaksa sebagian warga mulai berutang demi bertahan hidup.
Kerugian juga di rasakan pengguna alat tangkap tradisional ahan yang biasa di pasang di perairan dangkal. Taufik menyebut penurunan muka air membuat perangkap ikan itu tak lagi berfungsi.
“Airnya terlalu rendah, ahan tidak bisa dipasang sama sekali,” jelasnya.
Ia menyebut banyak warga kehilangan pekerjaan dalam waktu singkat akibat kondisi tersebut.
Efek lanjutan turut menghantam sektor pariwisata Danau Kerinci. Dermaga perahu wisata mengering, perjalanan danau terhenti, dan kunjungan wisatawan menurun tajam. Warung kecil di sekitar kawasan wisata ikut sepi pembeli.
Seorang pelaku wisata mengaku omzetnya turun drastis sejak air danau menyusut.
“Biasanya akhir pekan ramai, sekarang perahu tidak jalan dan pengunjung hampir tidak ada,” tuturnya.
Bagi masyarakat setempat, Danau Kerinci bukan sekadar panorama alam, melainkan pusat ekonomi rakyat kecil. Uji coba PLTA yang baru mengaktifkan satu turbin saja sudah memicu dampak luas, menimbulkan kekhawatiran lebih besar ketika pembangkit beroperasi penuh.
Warga mendesak adanya evaluasi cepat dan terbuka dari pemerintah serta pengelola PLTA. Mereka meminta pengaturan debit air yang tidak mengorbankan kehidupan masyarakat sekitar danau.
Tanpa langkah mitigasi, penyusutan air dikhawatirkan memperpanjang krisis ekonomi lokal, memperbesar angka pengangguran, dan memicu kemiskinan baru di wilayah pesisir Danau Kerinci.
Surutnya air danau kini tak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga menggerus masa depan ribuan keluarga yang menggantungkan hidup di atasnya.(Tim)









