Danau Kaco dan Telaga Biru Terikat Legenda

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 21 Desember 2025 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KLIKINAJA – Danau Kaco di Desa Lempur dan Telaga Biru di kawasan Jangkat Serampas bukan hanya dikenal karena kejernihan air dan panorama pegunungannya. Dua telaga ini juga di yakini memiliki keterkaitan sejarah dan budaya yang berakar dari cerita rakyat masyarakat Puncak Nan Tigo Kaum, yang telah hidup turun-temurun sejak ratusan tahun silam.

Kisah tersebut bermula dari wilayah Tanjung Kasri, Serampas, dan berkembang menjadi legenda yang menyatukan dua bentang alam berbeda kabupaten. Dalam cerita yang di yakini berasal dari abad ke-18 Masehi, masyarakat mengenal sosok perempuan cantik bernama Puti Suluh Makan, putri dari kawasan adat Puncak Nan Tigo Kaum, yang jejak kisahnya di percaya melekat kuat pada kedua telaga tersebut.

Legenda yang Mengikat Dua Telaga

Secara geografis, Danau Kaco berada di ketinggian sekitar 1.229 meter di atas permukaan laut. Danau kecil dengan air sebening kaca ini tersohor karena mampu memantulkan cahaya, bahkan pada malam hari.

Menurut cerita rakyat setempat, Danau Kaco di yakini sebagai tempat terakhir Puti Suluh Makan menatap bayangan wajahnya di permukaan air, seolah bercermin untuk terakhir kalinya sebelum menghilang dari kisah dunia manusia.

Sementara itu, Telaga Biru terletak di ketinggian sekitar 2.033 meter di atas permukaan laut. Telaga ini di kenal dengan warna airnya yang kebiruan dan udara pegunungan yang sejuk. Dalam tuturan para tetua adat, Telaga Biru di percaya sebagai tempat Puti Suluh Makan biasa mandi dan membersihkan diri.

Baca Juga :  Status 2.104 Honorer Jambi Menggantung, Pemprov Tunggu Keputusan Kemenpan-RB

Perbedaan ketinggian dan lokasi membuat kedua telaga ini tampak terpisah secara fisik. Namun, dalam pandangan budaya masyarakat setempat, Danau Kaco dan Telaga Biru disebut “serupa tapi tak sama”. Keduanya memiliki karakter alam yang mirip, tetapi fungsi dan makna dalam cerita rakyat berbeda, meski bersumber dari kisah yang sama.

Wilayah Adat dan Ikatan Emosional

Keterkaitan dua telaga ini tidak terlepas dari posisinya yang berada dalam satu wilayah adat Puncak Nan Tigo Kaum pada masa lampau. Wilayah ini di yakini menjadi pusat kehidupan sosial dan budaya masyarakat pegunungan Jambi bagian barat pada abad ke-18.

Hingga kini, masyarakat Desa Lempur di Kabupaten Kerinci dan warga Jangkat Serampas di Kabupaten Merangin masih memandang kedua telaga tersebut sebagai bagian dari satu kesatuan sejarah. Ikatan emosional itu terus di jaga melalui cerita lisan, adat, serta penghormatan terhadap alam di sekitar telaga.

Salah seorang warga Lempur, Daswarsya, menuturkan bahwa legenda Puti Suluh Makan bukan sekadar cerita pengantar tidur. Menurutnya, kisah tersebut menjadi pengingat akan hubungan batin antara manusia, alam, dan sejarah leluhur.

Baca Juga :  Gunung Kunyit Punya Dua Kawah dan Taman Dewa yang Memukau

Ia menyampaikan bahwa Danau Kaco dan Telaga Biru di pandang sebagai simbol persaudaraan dua wilayah. Meski kini terpisah secara administratif, masyarakat tetap merasa memiliki ikatan sejarah dan emosional yang sama.

Lebih dari Sekadar Destinasi Wisata

Dalam beberapa tahun terakhir, Danau Kaco dan Telaga Biru semakin di kenal sebagai destinasi wisata alam unggulan Jambi. Keindahan alam yang berpadu dengan cerita rakyat membuat kedua lokasi ini memiliki nilai lebih di bandingkan sekadar objek wisata biasa.

Pemerhati budaya setempat menilai, pelestarian legenda Puti Suluh Makan penting untuk menjaga identitas lokal sekaligus menumbuhkan kesadaran wisata berbasis budaya. Cerita rakyat tersebut di nilai mampu memperkaya pengalaman pengunjung sekaligus mendorong pelestarian lingkungan.

Ke depan, masyarakat berharap pengelolaan wisata di kedua telaga tetap mengedepankan kearifan lokal. Dengan begitu, keindahan alam Danau Kaco dan Telaga Biru dapat terus di nikmati tanpa menghilangkan nilai sejarah dan budaya yang menyertainya.

Legenda Puti Suluh Makan telah menjadikan Danau Kaco dan Telaga Biru lebih dari sekadar telaga pegunungan. Kisah ini menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan dua wilayah, dua bentang alam, dan dua komunitas yang hingga kini masih menjaga warisan budaya leluhur di jantung pegunungan Jambi.(Tim)

Berita Terkait

Kolaborasi Lintas Sektor, Sungai Penuh Genjot Penurunan Stunting dari Hulu ke Hilir
Danau Kaco Masuk Daftar Danau Paling Jernih di Indonesia, Pesonanya Disebut Tak Tertandingi
Enam Kursi Pejabat Tinggi di Batang Hari Masih Kosong, Ini Penjelasan Pemkab
HMI Kerinci–Sungai Penuh Rayakan Milad ke-79, Ratusan Pelajar Ikut School of Leadership
KPK Ingatkan Risiko Jual Beli Jabatan ASN di Jambi
Bupati Monadi Pimpin Gerakan Nasional Indonesia ASRI di Danau Kerinci 2026
Kurve Akbar Sungai Penuh Libatkan Forkopimda dan Warga
Viral Suami di Grobogan Belah Rumah Usai Dugaan Perselingkuhan Istri
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 23:00 WIB

Kolaborasi Lintas Sektor, Sungai Penuh Genjot Penurunan Stunting dari Hulu ke Hilir

Senin, 16 Februari 2026 - 21:00 WIB

Danau Kaco Masuk Daftar Danau Paling Jernih di Indonesia, Pesonanya Disebut Tak Tertandingi

Senin, 16 Februari 2026 - 20:00 WIB

Enam Kursi Pejabat Tinggi di Batang Hari Masih Kosong, Ini Penjelasan Pemkab

Senin, 16 Februari 2026 - 13:00 WIB

HMI Kerinci–Sungai Penuh Rayakan Milad ke-79, Ratusan Pelajar Ikut School of Leadership

Senin, 16 Februari 2026 - 09:00 WIB

KPK Ingatkan Risiko Jual Beli Jabatan ASN di Jambi

Berita Terbaru