KLIKINAJA – Menyambut Ramadan 2026, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sarolangun mengintensifkan pengawasan kesehatan hewan ternak. Fokus utama di arahkan pada tiga penyakit menular yang di nilai paling berisiko terhadap populasi ternak dan perputaran ekonomi peternak.
Tiga penyakit tersebut adalah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Septicaemia Epizootica (SE), dan Penyakit Jembrana. Ketiganya memiliki karakter penularan cepat dan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan kematian hewan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner dan P2PH Kabupaten Sarolangun, drh. Deden Kusnandar, menegaskan bahwa strategi pengawasan tahun ini masih berpedoman pada evaluasi kasus sebelumnya.
“Penyakit yang kita antisipasi masih sama seperti tahun-tahun lalu. PMK, SE, dan Jembrana tetap menjadi prioritas karena dampaknya cukup serius terhadap populasi ternak,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Ia menjelaskan, tingkat penyebaran yang tinggi membuat ketiga penyakit tersebut perlu di kendalikan sejak awal. Jika terlambat di tangani, dampaknya bukan hanya pada kesehatan hewan, tetapi juga memukul pendapatan peternak dan kestabilan pasokan daging di pasaran, terutama ketika konsumsi meningkat selama Ramadan.
Pemeriksaan Ketat di Pasar dan Tempat Pemotongan
Lonjakan kebutuhan daging saat Ramadan menjadi perhatian tersendiri. Untuk itu, tim kesehatan hewan melakukan inspeksi sebelum dan sesudah pemotongan di sejumlah pasar utama di Sarolangun.
Pemeriksaan di lakukan menyeluruh, mulai dari pengecekan suhu tubuh, kondisi mulut dan kuku, adanya pembengkakan, hingga gejala fisik lain yang mengindikasikan infeksi. Hewan yang menunjukkan tanda-tanda sakit akan langsung di tindaklanjuti sesuai prosedur kesehatan veteriner.
Langkah ini di ambil guna memastikan daging yang beredar di tengah masyarakat benar-benar berasal dari ternak yang sehat dan layak konsumsi. Keamanan pangan asal hewan menjadi prioritas agar masyarakat bisa menjalankan ibadah Ramadan dengan tenang tanpa kekhawatiran terhadap kualitas daging yang di beli.
Imbauan Dini untuk Peternak dan Pedagang
Di sisi lain, Dinas Peternakan meminta peran aktif peternak dan pedagang. Gejala seperti demam tinggi, luka di area mulut dan kaki, pembengkakan, atau ternak tampak lemas tidak boleh di abaikan.
Pelaporan cepat di nilai menjadi kunci pencegahan. Dengan informasi yang di terima lebih awal, petugas dapat segera melakukan isolasi, pemeriksaan, dan tindakan medis untuk menekan potensi penyebaran.
Secara nasional, pengalaman wabah PMK beberapa tahun lalu menunjukkan betapa rentannya sektor peternakan terhadap penyakit menular. Kerugian bukan hanya di hitung dari jumlah ternak yang mati, tetapi juga dari turunnya daya beli, pembatasan distribusi, hingga biaya vaksinasi dan pengobatan. Kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah untuk bergerak lebih cepat sebelum situasi memburuk.
Upaya pengawasan yang konsisten juga berdampak pada kepercayaan konsumen. Ketika rantai pasok diawasi dengan ketat, stabilitas harga relatif lebih terjaga dan kepanikan pasar dapat di hindari.
Pemerintah daerah berharap langkah preventif ini mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan keberlangsungan usaha peternak di Kabupaten Sarolangun selama Ramadan.(Tim)









