KLIKINAJA – Arah baru pembangunan pertanian mulai terlihat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Pada 2026 mendatang, daerah ini di pastikan memiliki gudang Perum Bulog dengan fasilitas pascapanen lengkap. Keberadaan gudang ini di proyeksikan membawa perubahan nyata bagi petani padi, terutama dalam urusan harga dan penyerapan hasil panen.
Gudang Bulog tersebut di rancang berkapasitas 1.000 ton dan tidak berhenti sebagai tempat penyimpanan. Fasilitas pengering gabah serta rice milling unit (RMU) modern akan di bangun dengan kemampuan produksi mencapai 30 ton per hari. Targetnya jelas, Bulog ingin mengolah beras petani lokal hingga kualitas premium agar memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar.
Langkah ini di nilai strategis karena selama bertahun-tahun petani di Tanjabtim kerap berada di posisi lemah saat panen raya. Keterbatasan sarana pascapanen memaksa mereka menjual gabah ke luar daerah, sering kali dengan harga yang tidak sebanding dengan biaya produksi.
Direktur SDM dan Umum Bulog, Sudarsono Hardjosoekarto, memastikan seluruh proses administrasi pembangunan telah di selesaikan. Saat ini, tahapan berikutnya tinggal menunggu pengesahan Peraturan Presiden sebagai dasar penugasan nasional kepada Bulog.
Menurutnya, dengan fasilitas terintegrasi tersebut, Bulog bisa langsung menyerap gabah maupun beras dari petani. Rantai distribusi akan lebih ringkas, sehingga harga di tingkat petani berpeluang membaik dan lebih stabil.
Produksi Padi Naik, Daerah Siapkan Lahan Dua Hektare
Pemerintah daerah tak tinggal diam. Lahan seluas dua hektare telah disiapkan di Desa Nibung Putih, Kecamatan Muara Sabak Barat, sebagai lokasi pembangunan gudang Bulog. Penetapan lokasi ini di pilih karena dekat dengan sentra produksi padi dan akses distribusi.
Bupati Dillah Hikmah Sari menilai kehadiran Bulog akan menjadi instrumen penting menjaga stabilitas harga gabah. Efek lanjutannya diharapkan mampu mendorong peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) yang selama ini fluktuatif.
Produksi padi di Tanjabtim sendiri menunjukkan tren yang terus menanjak. Program tanam tiga kali setahun mulai memberikan hasil. Pada 2025, produksi gabah kering panen tercatat melampaui 41 ribu ton. Angka ini menjadi modal kuat bagi daerah untuk memperkuat perannya dalam ketahanan pangan regional.
Selama ini, biaya tambahan akibat distribusi ke luar daerah kerap memangkas keuntungan petani. Dengan hadirnya gudang Bulog di wilayah sendiri, beban tersebut dapat ditekan dan posisi tawar petani di hadapan tengkulak semakin kuat.
Kepala Cabang Bulog Kuala Tungkal, Reny Lelianda, menegaskan pembangunan gudang di Tanjabtim merupakan bagian dari program nasional Bulog membangun 100 Infrastruktur Pascapanen (IPP) di berbagai daerah. Secara teknis, Bulog telah siap menjalankan proyek tersebut begitu Perpres di tandatangani Presiden.
Bagi petani, gudang Bulog bukan sekadar bangunan baru. Infrastruktur ini membawa harapan agar hasil panen terserap maksimal, harga lebih adil, dan kesejahteraan meningkat. Dengan dukungan fasilitas pascapanen modern, Tanjabtim di proyeksikan mengokohkan diri sebagai salah satu lumbung pangan strategis di Provinsi Jambi.(Tim)









