KLIKINAJA – Pasar emas domestik membuka awal Januari 2026 dengan ritme yang cenderung tenang. Harga emas batangan produksi Antam yang di pasarkan melalui Pegadaian tercatat belum mengalami perubahan pada Minggu, 4 Januari 2026. Setelah fluktuasi ringan di hari-hari pertama tahun ini, harga kembali bertahan di level yang sama seperti sehari sebelumnya.
Berdasarkan data resmi Pegadaian, emas Antam ukuran 1 gram masih di patok Rp2.737.000. Nilai buyback, yakni harga pembelian kembali oleh Pegadaian, berada di angka Rp2.363.000 per gram. Pola ini menggambarkan pasar yang belum menemukan dorongan kuat, baik dari sisi permintaan maupun sentimen global.
Ukuran kecil juga bergerak senada. Emas 0,5 gram di jual Rp1.424.000 dengan buyback Rp1.181.000. Sementara emas 2 gram dipasarkan Rp5.408.000, dengan nilai buyback Rp4.726.000. Stabilitas ini menandakan pelaku pasar masih memilih menunggu arah yang lebih jelas.
Selisih Harga dan Catatan untuk Investor Ritel
Pada segmen menengah, emas Antam ukuran 5 gram di banderol Rp13.437.000, dengan buyback Rp11.815.000. Untuk ukuran 10 gram, harga jual tercatat Rp26.813.000 dan buyback Rp23.630.000. Jarak antara harga beli dan jual kembali masih cukup lebar, sebuah faktor yang perlu di perhitungkan sejak awal oleh investor ritel.
Emas berukuran besar pun mengikuti pola yang sama. Ukuran 50 gram di jual Rp133.700.000 dengan buyback Rp117.571.000. Sementara emas 100 gram berada di harga jual Rp267.314.000 dan buyback Rp235.143.000. Bahkan emas 1 kilogram masih bertahan di Rp2.671.460.000, dengan nilai buyback Rp2.339.847.000.
Kondisi harga yang cenderung datar ini berkaitan erat dengan sikap pelaku pasar global. Investor dunia masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral utama serta perkembangan geopolitik yang kerap memicu lonjakan harga emas. Selama faktor-faktor tersebut belum memberikan sinyal tegas, emas cenderung bergerak terbatas.
Momentum Tenang untuk Menata Portofolio 2026
Bagi sebagian investor, fase harga yang tidak banyak bergerak justru membuka ruang perencanaan. Investor jangka panjang dapat memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan pembelian bertahap tanpa tekanan lonjakan harga. Strategi akumulasi perlahan sering di pilih untuk meredam risiko volatilitas.
Di sisi lain, pelaku jangka pendek perlu lebih di siplin membaca sinyal pasar. Tanpa katalis kuat, pergerakan emas berpotensi berlangsung mendatar dalam waktu tertentu.
Dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi global sepanjang 2026, emas tetap relevan sebagai instrumen lindung nilai dan penyeimbang portofolio, selama keputusan investasi di ambil dengan perhitungan yang matang.(Tim)









