KLIKINAJA – Tekanan cuaca ekstrem kembali mengguncang sektor perkebunan rakyat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Dalam beberapa pekan terakhir, petani menghadapi realitas pahit ketika harga kelapa dalam merosot tajam, sementara komoditas pinang belum menunjukkan tanda pemulihan.
Curah hujan tinggi yang di sertai angin kencang membuat banyak tanaman tidak berproduksi optimal. Buah kelapa yang seharusnya siap panen justru rusak di pohon, sementara kualitas pinang ikut terdampak.
Harga Kelapa Merosot, Petani Kian Tertekan
Di tingkat petani, kelapa dalam kini hanya dihargai sekitar Rp3.200 per kilogram. Angka itu turun jauh dari beberapa waktu lalu yang sempat menembus Rp4.700 per kilogram.
Penurunan ini sejalan dengan menyusutnya hasil panen akibat musim pancaroba yang memicu kerusakan buah atau yang oleh petani di kenal sebagai kondisi “trek”.
Mujiono, petani kelapa yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari komoditas ini, menyebut situasi sekarang cukup berat bagi keluarganya.
“Panen memang sedang seret dan harga ikut turun, tapi kami tetap bersyukur. Mudah-mudahan cuaca segera membaik dan hasil kebun kembali normal,” ujarnya.
Menurutnya, dalam kondisi seperti ini banyak petani terpaksa menunda perawatan kebun karena biaya produksi tidak sebanding dengan hasil penjualan.
Harga Pinang Stagnan, Mutu Jadi Kunci
Sementara itu, harga pinang masih bertahan di kisaran Rp22.000 per kilogram. Meski tidak ikut anjlok, kestabilan tersebut sangat di pengaruhi kualitas hasil panen.
“Kalau pinangnya bagus dan kering sempurna, harganya tetap. Tapi begitu kualitas turun karena hujan atau angin, nilainya langsung ikut merosot,” jelas Mujiono.
Ia menambahkan, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat banyak buah sulit mencapai tingkat kematangan ideal. Dampaknya bukan hanya pada kuantitas panen, tetapi juga nilai jual di pasaran.
Stok Menipis, Harga Mudah Berubah
Dari sisi pengepul, fluktuasi harga di picu pasokan yang belum kembali normal. Anggi, pedagang pengumpul kelapa di Kecamatan Sabak Timur, menyebut hasil kiriman dari petani terus berkurang dalam beberapa minggu terakhir.
“Panen belum normal, jadi pasokan sedikit. Kalau stok terbatas seperti ini, harga gampang naik turun tergantung permintaan pasar,” katanya.
Ia berharap kondisi cuaca segera bersahabat agar produksi kembali stabil. Dengan volume panen yang membaik, pergerakan harga di nilai bisa lebih terkendali dan memberi ruang napas bagi petani.
“Kalau hasil kebun membaik, semoga harga juga tidak terus jatuh. Petani sangat bergantung pada ini,” pungkasnya.
Fluktuasi harga akibat iklim ekstrem bukan kali pertama terjadi di wilayah pesisir Jambi ini. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan pola cuaca kerap memukul komoditas perkebunan rakyat.
Tanpa sistem perlindungan harga dan dukungan adaptasi pertanian yang lebih kuat, petani akan terus berada di posisi rentan setiap kali cuaca berubah drastis.(Tim)









