KLIKINAJA – Dua ekor harimau Sumatera tertangkap kamera jebak saat beraktivitas di kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang. Rekaman tersebut menjadi bagian dari pemantauan rutin pengelola taman nasional untuk membaca dinamika populasi kucing besar di habitat alaminya.
Pemantauan kali ini difokuskan pada sebagian wilayah jelajah harimau di Berbak. Meski kamera berhasil merekam keberadaan individu, pihak balai belum menarik kesimpulan mengenai jumlah populasi secara keseluruhan karena data perjumpaan yang masih terbatas.
Pemantauan Berbasis Grid untuk Membaca Pergerakan Harimau
Kepala Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, Yunaidi, menjelaskan bahwa pada tahun ini pihaknya memasang 15 petak pemantauan berbentuk grid berukuran 3×3 kilometer persegi. Grid tersebut di tempatkan di area yang selama ini di kenal sebagai jalur pergerakan harimau.
Secara keseluruhan, terdapat tiga lokasi monitoring aktif. Satu berada di kawasan Berbak, sementara dua lainnya berada di wilayah Sembilang, yakni di Ngirawan Benu dan Bungin Sembilang. Ketiga titik tersebut menjadi area kunci untuk memantau keberadaan harimau di bentang alam rawa dan hutan pesisir.
Upaya pemantauan ini bukan hal baru. Sejak 2007, kamera jebak dan survei lapangan rutin di gunakan untuk membaca tren populasi harimau Sumatera. Dalam rentang waktu tersebut, populasi di kawasan Berbak terpantau relatif stabil pada satu dekade awal sebelum mulai mengalami penurunan pada periode berikutnya.
Fluktuasi Populasi Dipengaruhi Mangsa dan Gangguan Alam
Data kepadatan harimau menunjukkan perubahan cukup signifikan dari tahun ke tahun. Pada 2010, kepadatan tercatat sekitar 1,02 individu per 100 kilometer persegi, meningkat menjadi 1,2 individu pada 2015 dan kembali naik menjadi 1,46 individu pada 2018.
Memasuki 2020, kepadatan turun tajam menjadi 0,53 individu per 100 kilometer persegi. Namun pada 2021, hasil pemantauan justru menunjukkan lonjakan dengan kepadatan mencapai 1,69 individu per 100 kilometer persegi.
Kenaikan pada periode 2010 hingga 2018 dinilai sebagai sinyal positif. Indikasi tersebut di perkuat oleh temuan foto harimau betina dalam kondisi bunting serta rekaman anak harimau, yang menandakan proses reproduksi masih berlangsung di alam.
Yunaidi menegaskan, penurunan pada 2020 tidak serta-merta mencerminkan berkurangnya populasi. Pada 2021, tim mencatat perjumpaan dengan 18 individu harimau yang terdeteksi di 23 grid dari total 51 grid pemantauan. Beberapa di antaranya merupakan individu baru yang sebelumnya belum pernah terekam.
Pemantauan berlanjut pada 2022 dengan kepadatan sekitar 0,66 individu per 100 kilometer persegi. Penurunan ini diduga berkaitan dengan berkurangnya satwa mangsa, terutama babi hutan, sehingga harimau berpindah sementara ke wilayah lain untuk mencari sumber makanan.
Selain faktor mangsa, waktu pelaksanaan survei juga memengaruhi hasil. Pemantauan pada 2020 di lakukan sekitar tiga bulan setelah kebakaran hutan melanda kawasan Berbak, yang memungkinkan harimau menjauh sementara dari lokasi pemantauan sehingga tidak seluruhnya tertangkap kamera.(Tim)









