Hutan Jambi Menyusut Tajam, Krisis Ekologi Kian Nyata

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 8 Januari 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KLIKINAJA, JAMBI – Selama ratusan tahun, hutan alam di Provinsi Jambi menjadi fondasi kehidupan. Hutan menjaga aliran air, menstabilkan iklim lokal, dan menopang ruang hidup masyarakat. Namun dalam beberapa dekade terakhir, benteng ekologis itu terus tergerus oleh laju eksploitasi sumber daya yang nyaris tanpa jeda.

Jejak kerusakan kini mudah di temui. Pepohonan yang dulu berfungsi sebagai penahan tanah dan penyimpan air perlahan hilang, berganti bentang terbuka yang rapuh. Kondisi ini membuat Jambi berada pada fase paling rentan dalam sejarah lingkungannya, ketika bencana tak lagi di picu oleh kejadian luar biasa, melainkan oleh keseharian yang berubah.

Catatan Akhir Tahun 2025 yang dirilis KKI WARSI memperlihatkan skala persoalan yang mengkhawatirkan. Dalam rentang 52 tahun, sekitar 2,5 juta hektare hutan di Jambi lenyap. Tutupan hutan yang tersisa kini tinggal 929.899 hektare, atau sekitar 18,54 persen dari total daratan.

Jika di tarik ke periode yang lebih dekat, tekanan itu terasa makin nyata. Sepanjang sepuluh tahun terakhir, Jambi kehilangan lebih dari 112 ribu hektare hutan, luas yang setara hampir sepuluh kali wilayah Kota Jambi. Angka ini menegaskan bahwa kerusakan berjalan cepat dan konsisten.

Menurut Direktur KKI WARSI, Adi Junedi, tren tersebut menempatkan Jambi dalam kondisi darurat ekologis. Ia menilai dampaknya tidak linier, melainkan berlipat ganda, sementara upaya pemulihan akan menuntut biaya besar dan waktu panjang.

Ekspansi Sawit dan Tambang Jadi Pemicu Utama

Adi menjelaskan, penyusutan hutan dipicu oleh alih fungsi kawasan menjadi perkebunan skala luas, terutama sawit, yang terus merangsek ke wilayah hutan. Tekanan ini di perparah oleh ekspansi pertambangan serta kebakaran hutan dan lahan yang berulang setiap tahun.

Baca Juga :  RSUD Raden Mattaher Dapat Suntikan Dana Rp. 24 Miliar

Aktivitas tambang, baik batubara maupun emas, meninggalkan luka panjang pada bentang alam. Sungai tercemar, tanah rusak, dan konflik sosial bermunculan di sekitar wilayah tambang. Situasi menjadi lebih serius ketika praktik penambangan ilegal ikut merambah kawasan konservasi.

Ia menyebut temuan aktivitas penambangan emas tanpa izin di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, khususnya di Kabupaten Merangin. Kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan di wilayah yang seharusnya menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati.

Pantauan citra satelit hingga 2025 mencatat pembukaan lahan tambang batubara mencapai sekitar 16 ribu hektare. Sementara penambangan emas tanpa izin terindikasi merusak lebih dari 60 ribu hektare lahan, hampir tiga kali luas Kota Jambi.

Kerusakan tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Ketika hutan hilang, air hujan tak lagi terserap tanah. Sungai yang melebar akibat sedimentasi tambang mudah meluap saat hujan deras turun.

Adi menilai kondisi ini membuat banjir dan longsor berubah menjadi ancaman yang hadir sepanjang tahun. Jambi, katanya, sedang berada dalam fase rawan, ketika bencana hanya menunggu pemicu kecil untuk terjadi.

Perhutanan Sosial dan Jalan Keluar Krisis

Di tengah tekanan itu, ruang harapan masih terbuka melalui hutan yang dikelola masyarakat. Skema perhutanan sosial menunjukkan bahwa pemulihan ekologi bisa berjalan seiring dengan penguatan ekonomi warga.

Baca Juga :  Hujan Petir Berpotensi Guyur Jambi Hari Ini

Dalam enam tahun terakhir, wilayah perhutanan sosial di Jambi yang didampingi KKI WARSI mencatat peningkatan tutupan hutan sekitar 20.314 hektare. Capaian ini mendekati luas Kota Jambi dan menunjukkan dampak nyata pengelolaan partisipatif.

Pengelolaan berbasis masyarakat mendorong hutan tetap berdiri sambil memberi manfaat ekonomi melalui hasil hutan bukan kayu, agroforestri, hingga ekowisata. Pola ini menggeser cara pandang lama yang menempatkan hutan semata sebagai objek eksploitasi.

Meski demikian, Adi menilai capaian tersebut belum cukup untuk membendung laju kerusakan secara keseluruhan. Perlindungan hutan perlu di ikuti jaminan keberlanjutan ekonomi bagi masyarakat pengelolanya, agar hutan tidak kembali tertekan.

Peluang pendanaan iklim seperti pasar karbon, Results-Based Payment (RBP), dan biodiversity credit di nilai bisa menjadi penopang baru. Skema tersebut memberi nilai ekonomi yang lebih adil bagi hutan yang di jaga, sekaligus mendorong transisi menuju ekonomi hijau.

Upaya pemulihan juga perlu berjalan seiring dengan penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan, perbaikan tata kelola kehutanan, serta rehabilitasi kawasan yang telah rusak. Tanpa langkah tegas, bencana hidrometeorologi akan terus berulang dan menelan biaya sosial yang besar.

Adi menegaskan bahwa perubahan iklim bukan isu abstrak, melainkan realitas yang sudah dirasakan. Adaptasi dan pembenahan harus di lakukan sekarang, bukan ditunda. Catatan Akhir Tahun 2025 menjadi penanda pilihan besar: menyelamatkan sisa hutan Jambi atau membiarkan krisis ekologis semakin dalam.(Tim)

Berita Terkait

Harga Sembako Jambi Terjaga, Polisi Intensif Awasi Pasar Jelang Ramadan 2026
Operasi Keselamatan Siginjai 2026 Dimulai, Polda Jambi Bidik 9 Pelanggaran Lalu Lintas
Pemkot Jambi Kebut PSN: Sekolah Rakyat, Flyover Paal 10, dan Proyek Banjir
Calon Jamaah Haji 2026 Jambi Siap Berangkat, Pelunasan Biaya Tembus 109 Persen
Al Haris Geram Keracunan MBG Muaro Jambi, Keselamatan Anak Disorot Tajam
Pacu Perahu Batanghari Didorong Jadi Motor Sungai Bersih Jambi
Polda Jambi Bongkar 113 Jaringan Narkoba, Sita 44 Kilogram Barang Bukti
RSUD Ahmad Ripin Ungkap 120 Korban Keracunan MBG Sekernan Dirawat Intensif
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:00 WIB

Harga Sembako Jambi Terjaga, Polisi Intensif Awasi Pasar Jelang Ramadan 2026

Selasa, 3 Februari 2026 - 13:00 WIB

Operasi Keselamatan Siginjai 2026 Dimulai, Polda Jambi Bidik 9 Pelanggaran Lalu Lintas

Senin, 2 Februari 2026 - 15:00 WIB

Pemkot Jambi Kebut PSN: Sekolah Rakyat, Flyover Paal 10, dan Proyek Banjir

Senin, 2 Februari 2026 - 13:00 WIB

Calon Jamaah Haji 2026 Jambi Siap Berangkat, Pelunasan Biaya Tembus 109 Persen

Minggu, 1 Februari 2026 - 12:00 WIB

Al Haris Geram Keracunan MBG Muaro Jambi, Keselamatan Anak Disorot Tajam

Berita Terbaru