KLIKINAJA – Peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi perhatian serius di Kabupaten Kerinci. Sepanjang tahun 2025, jumlah warga yang terserang penyakit akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti menunjukkan tren naik di bandingkan periode sebelumnya.
Data resmi Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci mencatat, pada 2024 terdapat 96 kasus DBD. Angka tersebut bertambah menjadi 107 kasus di sepanjang 2025, atau meningkat 11 kasus dalam satu tahun kalender.
Kenaikan ini di nilai sebagai sinyal bahwa ancaman DBD belum sepenuhnya terkendali. Wilayah dengan kepadatan permukiman dan sistem drainase yang kurang optimal masih menjadi titik rawan penularan, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci, Hermizan, menyebut kondisi lingkungan memiliki peran besar dalam lonjakan tersebut.
“Masih banyak genangan air di sekitar rumah warga, saluran air yang tidak lancar, hingga barang bekas yang dibiarkan terbuka. Semua itu menjadi tempat ideal bagi nyamuk berkembang biak,” kata Hermizan.
Ia menambahkan, perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi faktor kunci yang belum sepenuhnya berjalan konsisten.
“Selama sumber perkembangbiakan nyamuk masih ada, risiko penularan akan terus berulang,” ujarnya.
Awal 2026, Kasus Baru Mulai Muncul
Memasuki awal 2026, kasus DBD kembali ditemukan di Kerinci. Hingga awal Februari, Dinas Kesehatan mencatat sedikitnya sembilan kasus baru, dengan wilayah Kerinci bagian tengah menjadi daerah dengan jumlah penderita terbanyak.
Menurut Hermizan, meningkatnya mobilitas warga turut mempercepat penyebaran virus dengue, terutama saat musim hujan.
“Curah hujan yang tinggi membuat genangan air lebih mudah terbentuk, sementara aktivitas masyarakat tetap berjalan normal. Kombinasi ini perlu di waspadai bersama,” tuturnya, Minggu (8/2/2026).
Ia menegaskan, pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan tindakan fogging. Peran aktif masyarakat tetap menjadi fondasi utama dalam menekan angka penularan.
“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Tanpa pemberantasan sarang nyamuk, kasus akan terus berulang,” kata Hermizan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci kembali mengimbau warga untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat secara disiplin. Menguras dan menutup tempat penampungan air, membersihkan pekarangan, serta memantau jentik nyamuk di lingkungan rumah di nilai masih sebagai langkah paling efektif dan berkelanjutan.
Upaya sederhana tersebut, jika di lakukan serentak dan rutin, diyakini mampu menekan laju penyebaran DBD sekaligus melindungi kesehatan masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.(Tim)









