KLIKINAJA – Kebakaran yang melanda SMP Negeri 2 Sungai Penuh pada Kamis (19/2) langsung mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Sungai Penuh. Wali Kota Alfin turun langsung ke lokasi bersama Sekretaris Daerah Alpian untuk melihat kondisi bangunan yang terdampak dan memastikan langkah penanganan berjalan tanpa penundaan.
Kunjungan tersebut di lakukan pada hari yang sama setelah insiden terjadi. Sejumlah ruang belajar di laporkan terdampak, meski belum ada rincian resmi terkait total kerugian. Di lokasi, Wako Alfin berdialog dengan pihak sekolah guna mengetahui kebutuhan paling mendesak agar aktivitas pendidikan tidak lumpuh.
Ia menegaskan, pemerintah daerah akan memprioritaskan pendataan kerusakan secara detail sebelum menentukan langkah rehabilitasi. Fokus utama saat ini adalah menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar.
“Kami datang untuk memastikan penanganan berjalan cepat. Pendataan harus segera rampung agar perbaikan bisa di lakukan dan siswa tetap dapat belajar dengan aman,” ujar Alfin.
Percepatan Pendataan dan Skema Belajar Sementara
Pemkot Sungai Penuh mulai mengoordinasikan perangkat daerah terkait untuk menghitung dampak kerusakan fisik bangunan serta kebutuhan anggaran perbaikan. Opsi pembelajaran sementara, termasuk pemindahan ruang kelas atau sistem belajar bergiliran, tengah di kaji agar siswa tidak kehilangan waktu belajar.
Langkah tersebut di ambil sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah daerah terhadap hak pendidikan anak. Sekda Alpian turut menegaskan bahwa proses administrasi dan teknis akan di percepat sesuai prosedur yang berlaku.
“Yang terpenting, kegiatan belajar tidak berhenti. Kami akan siapkan skema darurat sembari menunggu proses rehabilitasi bangunan,” kata perwakilan pemerintah daerah di lokasi.
Evaluasi Keamanan Sekolah Jadi Perhatian
Peristiwa ini juga menjadi alarm bagi seluruh satuan pendidikan di Sungai Penuh. Pemerintah kota mengimbau pihak sekolah untuk melakukan pengecekan rutin terhadap instalasi listrik, sistem keamanan, serta sarana penunjang lainnya yang berpotensi memicu risiko kebakaran.
Kebakaran di lingkungan sekolah bukan hanya berdampak pada kerusakan fisik, tetapi juga psikologis siswa. Karena itu, selain pemulihan bangunan, pendekatan pendampingan bagi peserta didik di nilai perlu agar suasana belajar kembali kondusif.
Dalam konteks yang lebih luas, insiden ini menunjukkan pentingnya manajemen risiko di lingkungan pendidikan. Banyak sekolah berdiri dengan infrastruktur lama yang memerlukan audit keselamatan berkala.
Pemerintah daerah di berbagai wilayah kini mulai menaruh perhatian pada standar keamanan bangunan sekolah, termasuk sistem proteksi kebakaran dan jalur evakuasi.
Dengan respons cepat dari pemerintah kota, di harapkan proses pemulihan di SMP Negeri 2 Sungai Penuh dapat segera terealisasi dan aktivitas belajar kembali normal dalam waktu yang tidak terlalu lama.(Tim)









