KLIKINAJA – Memasuki pekan pertama Ramadan 1447 Hijriah, suasana pasar tradisional di berbagai daerah mulai dipadati warga. Dari kota besar hingga kabupaten, satu bahan makanan kembali menjadi incaran: kolang kaling.
Di sejumlah pasar di Pulau Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi, pedagang mengaku permintaan kolang kaling meningkat signifikan sejak hari pertama puasa. Buah kenyal berwarna bening itu umumnya ditata dalam ember-ember besar, siap di timbang sesuai kebutuhan pembeli yang hendak menyiapkan menu berbuka.
Harga kolang kaling bervariasi di tiap daerah, rata-rata berkisar Rp14 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan distribusi pasokan. Di beberapa wilayah, harga tercatat naik di bandingkan Ramadan tahun lalu, namun lonjakan tersebut tak menyurutkan minat masyarakat.
Dicari Sejak Awal Ramadan
Pedagang di pasar tradisional menyebut pembelian kolang kaling biasanya meningkat tajam menjelang sore. Namun pada awal Ramadan, pembeli sudah mulai berburu sejak pagi hari untuk memastikan stok tersedia di rumah.
Banyak keluarga menjadikan kolang kaling sebagai bahan utama kolak, es buah, hingga campuran manisan. Rasanya yang netral dan teksturnya yang kenyal membuatnya mudah di padukan dengan gula merah, santan, maupun sirup.
Seorang pembeli di Bandung, misalnya, mengaku setiap Ramadan selalu membeli kolang kaling untuk persiapan menu berbuka. Ia menyebut anak-anaknya lebih menyukai kolak dengan tambahan kolang kaling di bandingkan isian lain.
“Kalau puasa pasti cari kolang kaling. Sudah jadi kebiasaan keluarga dari dulu,” ujarnya.
Harga Beragam, Minat Tetap Tinggi
Di beberapa kota besar, harga tahun ini di laporkan naik sekitar Rp3 ribu hingga Rp5 ribu per kilogram. Faktor distribusi dan peningkatan biaya transportasi menjadi salah satu penyebab.
Meski demikian, kolang kaling tetap masuk daftar belanja prioritas masyarakat. Sebagian pembeli memilih membeli dalam jumlah sedikit namun rutin, di bandingkan sekaligus dalam jumlah besar.
Tradisi ini tak lepas dari peran kolang kaling dalam kuliner Ramadan Indonesia. Buah yang berasal dari pohon aren tersebut di kenal kaya serat dan mengandung air cukup tinggi, sehingga kerap di anggap cocok di konsumsi setelah seharian berpuasa.
Identik dengan Ramadan
Menariknya, di luar bulan puasa, kolang kaling tidak selalu mudah di temukan di pasar. Permintaannya cenderung musiman dan melonjak hanya selama Ramadan.
Fenomena ini terlihat hampir merata di berbagai daerah. Di Yogyakarta, Surabaya, hingga Makassar, pedagang mengakui penjualan kolang kaling meningkat drastis di banding bulan biasa.
Di tengah maraknya takjil modern dan minuman viral yang ramai di media sosial, kolang kaling tetap bertahan sebagai pilihan klasik. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap hidangan, melainkan bagian dari suasana Ramadan yang di wariskan turun-temurun.
Ramadan boleh datang dengan tren baru setiap tahunnya, namun kolang kaling tetap menjadi salah satu bahan yang paling di cari masyarakat Indonesia saat bulan puasa tiba.(Tim)









