KLIKINAJA – Malam Nisfu Sya’ban kembali menjadi perbincangan umat Islam di berbagai daerah. Setiap tahun, momen ini kerap memunculkan pertanyaan serupa: kapan tepatnya malam Nisfu Sya’ban di laksanakan dan bagaimana cara menyambutnya dengan benar.
Berdasarkan penanggalan Hijriah, Malam Nisfu Sya’ban 1447 Hijriah jatuh pada Senin malam, 2 Februari 2026, dimulai sejak matahari terbenam atau setelah waktu Maghrib. Adapun tanggal 15 Sya’ban 1447 H bertepatan dengan Selasa, 3 Februari 2026.
Dalam sistem kalender Islam, pergantian hari tidak di mulai pada pukul 00.00, melainkan sejak terbenamnya matahari. Karena itu, malam sebelum tanggal 15 Sya’ban menjadi waktu yang di pahami sebagai malam Nisfu Sya’ban. Kesalahan memahami konsep ini kerap membuat sebagian masyarakat keliru menentukan waktunya.
Malam Pertengahan Sya’ban dan Tradisi Ibadah Umat
Malam Nisfu Sya’ban dikenal luas sebagai salah satu momentum spiritual yang di manfaatkan umat Muslim untuk memperbanyak ibadah. Di banyak daerah, masjid dan musala mulai ramai sejak selepas Maghrib dengan kegiatan doa bersama, pembacaan Surah Yasin, zikir, hingga pengajian singkat.
Tidak ada ritual baku yang di wajibkan secara syariat pada malam tersebut. Namun, para ulama sejak lama menganjurkan umat Islam mengisinya dengan amal kebaikan. Membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, serta salat sunah menjadi amalan yang lazim dilakukan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Tradisi ini juga berkembang sebagai sarana mempererat kebersamaan warga. Di tingkat kampung dan lingkungan RT, malam Nisfu Sya’ban sering di manfaatkan untuk silaturahmi dan penguatan nilai keagamaan menjelang Ramadan.
Momentum Menata Diri Jelang Ramadan
Selain bernilai ibadah, Nisfu Sya’ban sering di maknai sebagai titik refleksi sebelum memasuki bulan puasa. Bulan Sya’ban berada tepat satu bulan sebelum Ramadan, sehingga banyak umat Islam menjadikannya sebagai fase persiapan mental dan spiritual.
Para tokoh agama mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada perdebatan soal tata cara ibadah semata. Esensi Nisfu Sya’ban justru terletak pada kesungguhan memperbaiki diri, membersihkan hati, serta memperkuat hubungan sosial.
Dalam konteks kehidupan modern, malam Nisfu Sya’ban juga menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas duniawi dan spiritual. Kesibukan sehari-hari kerap membuat waktu refleksi semakin sempit, sehingga momentum seperti ini menjadi ruang jeda yang bernilai.
Masyarakat di imbau menyambut malam Nisfu Sya’ban dengan khusyuk, sederhana, dan tetap menjaga ketertiban. Nilai utamanya bukan pada kemeriahan, melainkan pada keikhlasan menjalani ibadah dan kesiapan menyambut Ramadan yang semakin dekat.(Tim)









