Obat Keracunan Makanan yang Aman dan Efektif untuk Dipakai di Rumah

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 8 Desember 2025 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Keracunan Makanan.

Ilustrasi Keracunan Makanan.

KLIKINAJA – Keracunan makanan dapat menimbulkan gejala mendadak seperti mual, diare, muntah, hingga kram perut. Untuk membantu meredakan keluhan tersebut, ada sejumlah obat yang umum digunakan dan dinilai aman bila dikonsumsi sesuai aturan pakai. Berikut penjelasan lengkap mengenai pilihan obat, cara kerja, serta dosis umumnya.

Gejala Keracunan Makanan dan Cara Mengatasinya

Sebagian besar kasus keracunan makanan disebabkan makanan terkontaminasi bakteri, virus, atau toksin. Kondisi ini biasanya muncul dalam beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Penanganan awal yang dianjurkan adalah beristirahat, minum air yang cukup, serta menggunakan obat yang dapat mengurangi diare, mual, atau kram.

Berikut daftar obat yang sering direkomendasikan untuk membantu meredakan gejala.

1. Loperamide (Imodium) – Mengurangi Frekuensi Diare

Loperamide bekerja dengan memperlambat pergerakan usus sehingga tubuh dapat menyerap cairan lebih optimal. Dengan mekanisme ini, tinja menjadi lebih padat dan frekuensi buang air besar bisa menurun.

Obat ini umumnya tersedia dalam bentuk tablet. Dosis dewasa biasanya 2 tablet saat pertama kali digunakan, lalu 1 tablet setiap kali buang air besar, dengan batas maksimal 8 tablet per hari. Penggunaannya sebaiknya tidak melebihi anjuran agar tidak menimbulkan sembelit berlebih.

Baca Juga :  7 Buah Penurun Tekanan Darah Tinggi yang Direkomendasikan Ahli

2. Hyoscine Butylbromide (Buscopan) – Meredakan Kram dan Nyeri Perut

Hyoscine butylbromide dikenal sebagai obat antispasmodik yang membantu melemaskan otot polos di saluran cerna. Efek ini dapat mengurangi kontraksi berlebihan yang memicu kram dan rasa tegang di perut.

Biasanya, obat ini diberikan dalam dosis 1 tablet sebanyak 3 kali sehari. Pada kondisi tertentu, dosis bisa ditingkatkan menjadi 4 kali sehari, sesuai kebutuhan dan toleransi tubuh.

3. Tay Pin San – Herbal untuk Mual dan Perut Kembung

Produk herbal tradisional ini mengandung campuran bahan alami seperti vitex trifolia fructus, angelicae anomalia radix, dan elsholtzia splendens herba. Kombinasi tersebut telah lama digunakan untuk meredakan mual, perut kembung, serta gangguan pencernaan ringan.

Tay Pin San tersedia dalam bentuk serbuk yang harus dilarutkan sebelum diminum. Takaran umumnya 1 sachet sekali minum, bisa dipakai 1–2 kali sehari tergantung gejala.

4. Oralit – Mengganti Cairan dan Elektrolit yang Hilang

Salah satu risiko paling serius dari keracunan makanan adalah dehidrasi akibat muntah dan diare. Oralit terdiri dari glukosa, natrium, kalium, dan elektrolit lain yang dirancang untuk mengembalikan keseimbangan cairan tubuh.

Baca Juga :  Asam Urat atau Rematik? Begini Cara Mengenalinya

Setiap sachet dilarutkan dalam air, lalu diminum setelah muncul gejala diare atau muntah. Pada orang dewasa, kebutuhan rata-rata mencapai 2–3 gelas larutan oralit per hari, atau lebih sesuai tingkat kehilangan cairan.

Berapa Lama Keracunan Makanan Akan Sembuh?

Dalam banyak kasus, keracunan makanan dapat pulih dalam 1–3 hari. Penderita dianjurkan mengonsumsi makanan ringan, memperbanyak minum air putih, dan menghindari minuman berkafein atau bersoda.

Namun, kondisi tertentu memerlukan perhatian medis segera, terutama bila gejala semakin berat atau tidak membaik.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi tenaga medis bila muncul tanda bahaya berikut:

Demam tinggi

Muntah terus-menerus

BAB berdarah

Tanda dehidrasi berat, seperti pusing atau urin sangat sedikit

Gejala tidak membaik setelah 2–3 hari

Penanganan dokter diperlukan untuk menentukan penyebab, risiko infeksi, dan pengobatan lanjutan yang lebih tepat.

Penggunaan obat keracunan makanan perlu disesuaikan dengan gejala yang muncul. Loperamide dapat membantu mengendalikan diare, Buscopan meredakan kram, sementara Oralit sangat penting untuk mencegah dehidrasi. Jika kondisi memburuk, pemeriksaan dokter tidak boleh ditunda.(Tim)

Berita Terkait

Tidur Setelah Sahur, Aman atau Berisiko bagi Kesehatan Puasa?
Asam Urat atau Rematik? Begini Cara Mengenalinya
Gatal Tak Kunjung Hilang Bisa Tanda Ginjal Bermasalah, Ini Bedanya
Rutin Minum Air Rebusan Kayu Manis, Ini Khasiatnya bagi Tubuh
Telur Ayam vs Telur Bebek, Mana Lebih Sehat Dimakan Setiap Hari?
Dahak Berdarah Bisa Jadi Tanda Penyakit Serius
8 Pantangan Diabetes yang Wajib Diperhatikan
Daun Karuk: Kandungan, Khasiat, dan Cara Pakai Aman
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 Februari 2026 - 06:00 WIB

Tidur Setelah Sahur, Aman atau Berisiko bagi Kesehatan Puasa?

Minggu, 8 Februari 2026 - 02:00 WIB

Asam Urat atau Rematik? Begini Cara Mengenalinya

Sabtu, 7 Februari 2026 - 06:00 WIB

Gatal Tak Kunjung Hilang Bisa Tanda Ginjal Bermasalah, Ini Bedanya

Sabtu, 3 Januari 2026 - 16:00 WIB

Rutin Minum Air Rebusan Kayu Manis, Ini Khasiatnya bagi Tubuh

Minggu, 28 Desember 2025 - 09:00 WIB

Telur Ayam vs Telur Bebek, Mana Lebih Sehat Dimakan Setiap Hari?

Berita Terbaru

Bisnis

Honda BeAT Connected 125 2026 Hadir, Mesin Naik Kelas

Minggu, 8 Feb 2026 - 18:26 WIB