KLIKINAJA, MUARO JAMBI – Anggota DPR RI asal Jambi, Edi Purwanto, kembali menekan pemerintah pusat agar segera memperlebar ruas jalan nasional yang menghubungkan Kota Jambi dan Mendalo, Kabupaten Muaro Jambi. Dorongan ini ia sampaikan setelah menerima banyak laporan soal kemacetan dan meningkatnya risiko kecelakaan di kawasan tersebut.
Kebutuhan Mendesak pada Ruas Utama Pendidikan
Edi menjelaskan bahwa jalur Jambi–Mendalo adalah koridor vital yang setiap hari dilewati puluhan ribu mahasiswa dari dua kampus negeri, Universitas Jambi (UNJA) dan UIN Sultan Thaha Saifuddin. Selain itu, jalan ini juga menghubungkan akses menuju SMA Titian Teras dan MAN Cendekia yang berada di sekitar kawasan Pijoan.
Menurutnya, arus lalu lintas di ruas itu terus membesar seiring pertumbuhan jumlah mahasiswa dan aktivitas pendidikan. Dalam kondisi sekarang saja, kata Edi, jalan tersebut kerap menimbulkan kemacetan panjang, terutama pada jam masuk dan pulang kuliah.
“Mahasiswa dari UNJA dan UIN menyampaikan langsung kondisi di Pijoan. Area itu juga terhubung dengan sekolah-sekolah besar dan ditambah lagi adanya exit tol baru. Karena itu pelebaran jalan bukan lagi usulan, tapi kebutuhan mendesak,” ungkapnya.
Exit Tol Baru Berpotensi Menambah Kepadatan
Edi menegaskan, keberadaan exit tol Pijoan berpotensi membuat volume kendaraan meningkat drastis. Tanpa peningkatan kapasitas jalan, arus kendaraan—baik pribadi, angkutan umum, hingga kendaraan logistik antarprovinsi—akan semakin menumpuk.
Ia menyebutkan bahwa lebih dari 57 ribu mahasiswa menggunakan jalur ini setiap hari. Jumlah tersebut belum termasuk warga sekitar dan pengemudi yang melintas dari luar daerah. Jalan yang sempit membuat kendaraan sering bergerak lambat dan menimbulkan antrean panjang, terutama pada titik dekat simpang dan akses permukiman.
“Sekarang saja sudah macet dan rawan kecelakaan. Dengan exit tol, tekanan lalu lintas akan makin tinggi,” jelas mantan Ketua DPRD Provinsi Jambi itu.
Angka Kecelakaan Tinggi, Mahasiswa Jadi Korban
Salah satu alasan utama Edi mendesak percepatan proyek pelebaran adalah tingginya angka kecelakaan yang menimpa mahasiswa. Berdasarkan data yang ia terima, hampir 50 mahasiswa kehilangan nyawa dalam insiden kecelakaan di sepanjang jalur tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini menunjukkan kondisi jalan sudah sangat padat dan tidak lagi memadai. Keselamatan mahasiswa dan pengguna jalan harus jadi perhatian utama,” tegasnya.
Dalam pandangannya, selain pelebaran, pemerintah perlu mempertimbangkan pembangunan dua jalur penuh agar arus kendaraan bisa terbagi lebih aman. Terlebih, jalan ini bukan hanya akses pendidikan, tetapi juga jalur ekonomi yang menunjang aktivitas masyarakat Muaro Jambi dan Kota Jambi.
Desakan ke Kementerian PUPR
Edi menyampaikan permintaan tersebut secara formal dalam rapat Komisi V DPR RI bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Ia berharap ruas Jambi–Mendalo dimasukkan ke daftar skala prioritas pembangunan infrastruktur jalan nasional.
Menurutnya, jalan dengan beban lalu lintas sebesar itu tidak bisa lagi hanya mengandalkan penambalan atau perbaikan ringan. Perlu ada perencanaan menyeluruh, mulai dari pelebaran bahu jalan, pembangunan jalur dua arah, hingga penataan simpang dan drainase.
“Volume kendaraan terus meningkat dari tahun ke tahun, tetapi kapasitas jalannya tetap sama. Akibatnya, jalur ini terasa semakin sempit. Karena itu kami meminta agar ruas ini segera diprioritaskan pemerintah,” tutup Edi.
Dorongan pelebaran jalan Jambi–Mendalo kembali mengemuka seiring meningkatnya aktivitas pendidikan dan mobilitas masyarakat. Dengan jumlah pengguna yang besar serta risiko kecelakaan yang terus menghantui, percepatan proyek ini diharapkan dapat memberi solusi jangka panjang bagi keselamatan dan kelancaran transportasi di wilayah Jambi.(Tim)









