KLIKINAJA – Perusahaan teknologi asal China, ByteDance, resmi menyepakati pemisahan operasional TikTok di Amerika Serikat melalui skema perusahaan patungan. Kesepakatan yang didukung Presiden AS Donald Trump ini bertujuan menjamin keberlanjutan TikTok di AS, meredam kekhawatiran keamanan nasional, serta memastikan perlindungan data lebih dari 170 juta pengguna Amerika.
Restrukturisasi TikTok AS Jadi Jalan Tengah
Pemisahan TikTok di Amerika Serikat di lakukan dengan membentuk entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC. Perusahaan ini akan mengelola seluruh aktivitas TikTok di wilayah AS secara terpisah dari perusahaan induknya di China. Skema tersebut di pilih sebagai solusi kompromi di tengah tekanan regulasi yang semakin ketat.
Pemerintah AS menilai pemisahan struktural penting untuk mengurangi risiko penyalahgunaan data dan potensi pengaruh asing. Dengan entitas terpisah, operasional TikTok AS di harapkan lebih transparan dan tunduk penuh pada hukum setempat.
Dalam struktur kepemilikan baru, konsorsium investor asal Amerika Serikat dan mitra global menguasai 80,1 persen saham perusahaan patungan. Sementara itu, ByteDance mempertahankan kepemilikan minoritas sebesar 19,9 persen.
Investor utama dalam kesepakatan ini mencakup perusahaan teknologi Oracle, firma ekuitas swasta Silver Lake, serta MGX yang berbasis di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dengan komposisi tersebut, kendali mayoritas TikTok AS secara efektif berada di tangan pihak non-China.
Pesan Internal CEO TikTok
Kesepakatan pemisahan ini di sampaikan langsung oleh CEO TikTok, Shou Zi Chew, kepada karyawan melalui memo internal pada Kamis, 18 Desember 2025. Dalam pesan tersebut, ia menekankan bahwa restrukturisasi di lakukan demi masa depan jangka panjang TikTok di Amerika Serikat.
Chew menyebut langkah ini memungkinkan pengguna AS tetap mengakses TikTok sebagai bagian dari komunitas global. Informasi terkait memo internal tersebut juga dikonfirmasi oleh laporan CNN.
Meski perjanjian utama telah di tandatangani, proses pemisahan belum sepenuhnya rampung. Manajemen TikTok mengakui masih ada sejumlah tahapan teknis, administratif, dan regulasi yang harus di selesaikan.
Namun demikian, para pihak menargetkan penyelesaian akhir pada 22 Januari 2026. ByteDance dan manajemen TikTok disebut telah menyetujui seluruh persyaratan inti, termasuk pembagian kewenangan dan tanggung jawab operasional.
Tekanan Regulasi dan Isu Keamanan Data
Langkah pemisahan TikTok AS tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Berdasarkan undang-undang yang efektif berlaku pada Januari 2026, ByteDance di wajibkan melepas sekitar 80 persen kepemilikan TikTok AS kepada investor non-China.
Aturan tersebut muncul di tengah kekhawatiran soal keamanan data pengguna dan potensi campur tangan pemerintah asing. Selama beberapa tahun terakhir, TikTok menjadi sorotan utama dalam perdebatan keamanan digital dan perlindungan privasi di AS.
Pengelolaan Algoritma dan Data Lokal
Dalam skema baru, algoritma TikTok untuk pengguna Amerika akan dilatih ulang dengan basis data lokal. Oracle di tunjuk untuk mengawasi penyimpanan dan pengamanan data warga AS, sesuai arahan otoritas Gedung Putih.
Selain itu, perusahaan patungan TikTok AS akan bertanggung jawab penuh atas moderasi konten di wilayah Amerika Serikat. Pengelolaan terpisah ini di harapkan dapat meningkatkan kepercayaan publik dan regulator terhadap platform tersebut.
Peran ByteDance Masih Berlanjut
Meski tidak lagi menjadi pemegang saham mayoritas di TikTok AS, ByteDance tetap memiliki peran strategis dalam ekosistem global TikTok. Perusahaan induk masih menangani pengembangan e-commerce, periklanan, dan strategi pemasaran lintas negara.
Model ini memungkinkan TikTok AS tetap terhubung dengan jaringan global tanpa melanggar ketentuan hukum di Amerika Serikat. Dengan demikian, kesinambungan bisnis global TikTok tetap terjaga.
Persetujuan China Masih Menjadi Kunci
Kesepakatan pemisahan ini belum sepenuhnya final karena masih menunggu persetujuan pemerintah China. Presiden Trump sebelumnya mengklaim Presiden China Xi Jinping mendukung langkah tersebut, namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Beijing.
Menanggapi pertanyaan media, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyatakan posisi negaranya terkait TikTok tetap konsisten dan meminta publik menunggu pernyataan dari otoritas yang berwenang.
Implikasi bagi Masa Depan TikTok AS
Selain persetujuan dari China, kesepakatan ini juga memerlukan restu regulator di kedua negara. Proses perizinan lintas negara di nilai krusial, mengingat TikTok merupakan salah satu platform media sosial terbesar di dunia dengan pengaruh ekonomi dan sosial yang luas.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, pemisahan TikTok AS akan menjadi salah satu restrukturisasi terbesar dalam industri teknologi global. Langkah ini berpotensi menjadi preseden baru dalam hubungan bisnis, teknologi, dan regulasi antara Amerika Serikat dan China di era ekonomi digital.(Tim)









