KLIKINAJA – Pasar kerja di Provinsi Jambi masih menyimpan ironi. Di tengah dorongan peningkatan kualitas sumber daya manusia, lulusan perguruan tinggi justru menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka paling tinggi.
Data resmi yang di rilis Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan universitas mencapai 6,97 persen. Angka ini berada di atas lulusan Diploma I, II, dan III serta Sekolah Menengah Atas (SMA) yang masing-masing tercatat 4,86 persen.
Kepala BPS Provinsi Jambi dalam rilis statistiknya menggambarkan kondisi tersebut sebagai tantangan serius dunia kerja. Ia menyebutkan bahwa tingginya TPT sarjana mengindikasikan ketidaksinkronan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri di daerah.
“Lulusan perguruan tinggi menghadapi persaingan yang lebih ketat, sementara lapangan kerja yang sesuai dengan kualifikasi mereka tumbuh lebih lambat,” ujarnya dalam pemaparan data ketenagakerjaan terbaru.
Di sisi lain, lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) justru mencatat tingkat pengangguran paling rendah, yakni 2,78 persen. Kondisi ini mencerminkan besarnya serapan tenaga kerja di sektor informal dan pekerjaan berbasis keterampilan dasar.
Kondisi Ketenagakerjaan Membaik, Tapi Belum Merata
Di balik tingginya pengangguran sarjana, situasi ketenagakerjaan Jambi secara umum menunjukkan perbaikan. Hingga November 2025, jumlah angkatan kerja mencapai 1,94 juta orang, bertambah sekitar 5,26 ribu orang di banding Agustus 2025.
Pertumbuhan angkatan kerja ini di ikuti peningkatan jumlah penduduk bekerja menjadi 1,86 juta orang, atau naik 8,38 ribu orang. Pada saat yang sama, jumlah pengangguran menurun 3,12 ribu orang, sehingga total pengangguran berada di angka 79,22 ribu orang.
Secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka Provinsi Jambi kini berada di 4,08 persen, turun 0,17 persen poin dari periode sebelumnya. Penurunan ini di nilai sebagai sinyal pemulihan ekonomi yang masih berlangsung.
Seorang analis ketenagakerjaan daerah menilai tren tersebut patut di apresiasi, meski belum sepenuhnya menyentuh seluruh kelompok.
“Perbaikan agregat sudah terlihat, tetapi distribusinya belum merata, terutama bagi perempuan dan lulusan perguruan tinggi,” jelasnya.
Ketimpangan juga tampak dari sisi gender. TPT perempuan tercatat 4,9 persen, lebih tinggi di bandingkan laki-laki yang berada di level 3,62 persen. Ketimpangan serupa terlihat pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK), di mana laki-laki mencapai 85,89 persen, sementara perempuan hanya 50,23 persen.
Dari sisi wilayah, daerah perkotaan mencatat TPT 4,47 persen, lebih tinggi di banding perdesaan 3,83 persen. Meski begitu, penurunan pengangguran di perkotaan tergolong tajam, mencapai 1,09 persen poin.
Sebaliknya, wilayah perdesaan justru mengalami kenaikan 0,38 persen poin.
Pengamat ekonomi lokal menilai kondisi ini menuntut penyesuaian kebijakan yang lebih tajam.
“Tanpa penguatan link and match pendidikan dan dunia usaha, pengangguran terdidik berpotensi menjadi persoalan jangka panjang,” ujarnya.(Tim)









