KLIKINAJA – Perubahan kepemimpinan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi menjadi momentum strategis bagi arah kebijakan ekonomi regional. Wakil Wali Kota Sungai Penuh, Azhar Hamzah, menilai peran Bank Indonesia semakin menentukan di tengah fluktuasi harga pangan, tekanan global, dan kebutuhan penguatan sektor usaha lokal.
Pengukuhan kepala perwakilan BI yang baru berlangsung di Kota Jambi dan di hadiri para kepala daerah se-Provinsi Jambi. Kehadiran lintas wilayah ini mencerminkan besarnya harapan pemerintah daerah terhadap peran bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berpihak pada masyarakat.
Azhar melihat kebijakan BI selama ini tidak hanya berdampak di level makro, tetapi terasa langsung hingga pasar tradisional dan pelaku UMKM. “Pengendalian inflasi menjadi kunci agar daya beli warga tetap terjaga, terutama saat harga kebutuhan pokok kerap bergejolak,” ujarnya.
Ia menggambarkan kehadiran Bank Indonesia sebagai penopang penting bagi ketahanan ekonomi daerah. Intervensi harga pangan, dukungan pembiayaan UMKM, serta literasi keuangan di nilai membantu banyak pelaku usaha bertahan di tengah perubahan ekonomi yang cepat.
Bagi Azhar, sinergi antara bank sentral dan pemerintah daerah tidak bisa berjalan satu arah. Kebijakan moneter perlu di selaraskan dengan kondisi riil di lapangan, mulai dari sektor pertanian, perdagangan, hingga ekonomi digital yang mulai tumbuh di kawasan Sungai Penuh dan Kerinci.
Wilayah tersebut selama ini di kenal sebagai sentra pertanian dan UMKM berbasis komoditas lokal. Fluktuasi harga pupuk, hasil panen, hingga distribusi pangan sangat memengaruhi kestabilan ekonomi rumah tangga. Karena itu, kolaborasi dengan BI di pandang krusial untuk menjaga rantai pasok tetap sehat.
Azhar berharap kepemimpinan baru BI Jambi mampu menghadirkan program yang lebih responsif terhadap karakter ekonomi daerah. Pendekatan berbasis potensi lokal di yakini akan membuat kebijakan terasa konkret, bukan sekadar angka di laporan statistik. Di sisi lain, tantangan ekonomi ke depan di prediksi semakin kompleks.
“Tekanan global, perubahan iklim yang memengaruhi hasil pertanian, serta percepatan digitalisasi menuntut strategi yang adaptif. Pemerintah daerah membutuhkan mitra kuat untuk menjaga stabilitas sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru,” tutupnya.
Pergantian pimpinan di tubuh BI Jambi di nilai sebagai awal penguatan koordinasi lintas sektor. Harapannya, kebijakan moneter, fiskal daerah, dan program pemberdayaan masyarakat dapat berjalan seiring demi mendorong ekonomi yang inklusif.
Bagi Sungai Penuh dan kawasan sekitarnya, stabilitas ekonomi bukan sekadar indikator makro, melainkan penentu kesejahteraan masyarakat. Ketika harga terkendali dan UMKM tumbuh, perputaran ekonomi lokal akan semakin kuat dan berkelanjutan.(Tim)









