Klikinaja – Kondisi Danau Kerinci yang menunjukkan penyusutan debit air secara kasat mata memicu kekhawatiran masyarakat dan berbagai pihak. Mengingat danau ini merupakan sumber energi utama bagi proyek strategis nasional, pihak manajemen PLTA Merangin Hidro akhirnya memberikan penjelasan resmi untuk meredam spekulasi yang berkembang di publik.
Manajemen menegaskan bahwa fluktuasi air di danau vulkanik tersebut memang sedang terjadi, namun operasional dan rencana pembangunan proyek masih berjalan sesuai jalurnya. Fenomena ini dipandang sebagai dinamika alam yang telah masuk dalam perhitungan teknis perusahaan, sehingga tidak menghambat aktivitas konstruksi yang sedang berlangsung di lapangan.
Meskipun debit air berada pada level yang lebih rendah dari biasanya, tim teknis PLTA terus memantau pergerakan air setiap jam. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa segala tindakan mitigasi dapat diambil secara cepat jika terjadi penurunan yang ekstrem. Komitmen ini diambil guna menjaga stabilitas proyek sekaligus menghormati keseimbangan lingkungan di kawasan Kerinci.
Pihak perusahaan juga menekankan pentingnya transparansi informasi kepada masyarakat. Mereka menyadari bahwa Danau Kerinci bukan sekadar kolam penampung energi, melainkan urat nadi kehidupan bagi warga sekitar. Oleh karena itu, koordinasi dengan instansi terkait terus diperkuat guna memastikan ketersediaan air tetap terjaga untuk berbagai kebutuhan.
Mengapa Kelestarian Danau Kerinci Begitu Vital?
Penyusutan air danau sebenarnya menjadi alarm bagi semua pihak untuk melihat kembali kondisi hulu sungai. Tantangan terbesar bagi PLTA Merangin Hidro di masa depan bukan hanya soal ketersediaan turbin atau teknologi, melainkan konsistensi pasokan air. Masalah sedimentasi dan perubahan fungsi lahan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) merupakan faktor kunci yang menentukan umur panjang proyek energi terbarukan ini.
Investasi besar pada sektor energi hijau seperti ini harus dibarengi dengan komitmen konservasi yang sama besarnya. Tanpa menjaga daerah tangkapan air di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), risiko kekeringan di masa mendatang akan menjadi beban operasional yang sangat mahal bagi industri energi. (Tim)









