KLIKINAJA – Pemerintah memastikan anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) tahun 2026 untuk aparatur negara telah di siapkan sebesar Rp 55 triliun. Dana jumbo tersebut akan di berikan kepada aparatur sipil negara (ASN), termasuk PNS, PPPK, prajurit TNI, anggota Polri, hakim, hingga para pensiunan.
Kepastian itu di sampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa usai menghadiri forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jumat (13/2/2026) kemarin.
Dalam keterangannya, Purbaya menegaskan pencairan akan di lakukan menjelang bulan suci. Ia menyebut pemerintah menargetkan penyaluran di lakukan pada fase awal Ramadan.
“Anggarannya sudah tersedia dan pasti di cairkan. Harapan kami, di awal puasa dana itu sudah masuk ke rekening para penerima,” kata Purbaya.
Meski demikian, ia belum merinci tanggal pasti pencairan karena masih menunggu penerbitan regulasi teknis.
Naik Lebih dari 10 Persen Dibanding 2025
Jika di bandingkan tahun sebelumnya, nilai THR 2026 mengalami kenaikan. Pada 2025, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp 49,9 triliun. Artinya, terdapat peningkatan sekitar Rp 5,1 triliun atau lebih dari 10 persen.
Lonjakan anggaran ini sejalan dengan peningkatan kebutuhan belanja pegawai dan penyesuaian kebijakan fiskal. Pemerintah juga memperhitungkan stabilitas ekonomi nasional agar tetap terjaga di tengah dinamika global.
Pada tahun lalu, THR di berikan kepada sekitar 9,4 juta aparatur negara. Mereka terdiri dari ASN pusat dan daerah, PPPK, TNI, Polri, hakim, hingga pensiunan. Skema yang di gunakan umumnya berupa satu kali gaji pokok di tambah tunjangan melekat. Untuk pensiunan, besarannya setara uang pensiun bulanan.
“Jumlahnya memang tidak kecil, tapi ini bagian dari kewajiban negara kepada aparatur yang telah mengabdi,” ujar Purbaya, menegaskan komitmen pemerintah.
Bila pola sebelumnya di pertahankan, mekanisme pencairan akan di lakukan serentak melalui kementerian/lembaga dan pemerintah daerah masing-masing.
Dampak Ekonomi Jelang Ramadan dan Lebaran
THR bukan sekadar tambahan pendapatan tahunan. Dana Rp 55 triliun yang beredar menjelang Ramadan berpotensi memicu pergerakan ekonomi secara luas. Konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, biasanya meningkat tajam saat periode Lebaran.
Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan sektor ritel, transportasi, makanan-minuman, hingga pariwisata domestik ikut terdongkrak. Perputaran uang yang tinggi menciptakan efek berganda, terutama di daerah-daerah dengan jumlah ASN besar.
Di sisi fiskal, kebijakan ini juga menunjukkan ruang belanja pemerintah masih cukup terjaga. Kenaikan anggaran THR memberi sinyal bahwa pemerintah tetap menjaga keseimbangan antara belanja sosial dan stabilitas APBN.
Dengan kepastian anggaran tersebut, jutaan aparatur negara kini tinggal menunggu pengumuman resmi jadwal pencairan. Ramadan 2026 pun di prediksi akan kembali menjadi momentum perputaran ekonomi nasional yang signifikan.(Tim)









