KLIKINAJA, KERINCI – Publikasi media menjadi titik balik bagi nasib Abu Tani (77), seorang lansia yang hidup sebatang kara di Desa Sungai Abu. Setelah kondisi kesehatannya ramai di perbincangkan, Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci menurunkan tim medis ke kediamannya melalui Puskesmas Sungai Tutung.
Kunjungan tersebut di lakukan untuk melihat langsung kondisi Abu Tani yang selama ini hanya terbaring lemah di rumah dengan fasilitas sangat terbatas. Tim kesehatan memeriksa kondisi fisik, memantau keluhan yang di alami, serta memberikan penanganan medis awal sesuai kebutuhan pasien lanjut usia.
Abu Tani selama ini hidup tanpa keluarga pendamping dan tanpa penghasilan tetap. Keterbatasan fisik membuatnya sulit mengakses layanan kesehatan secara mandiri. Situasi itulah yang membuat kehadiran tenaga medis menjadi harapan baru, setidaknya untuk memastikan ia tidak lagi berjuang sendirian menghadapi sakitnya.
Kades Dorong Bantuan Sosial Menyusul, Bukan Sekadar Penanganan Medis
Kepala Desa Sungai Abu, Antoni Rozi, menyambut baik langkah cepat Dinkes Kerinci. Ia menyebut respons tersebut sebagai bentuk kepedulian nyata pemerintah daerah setelah persoalan ini tersampaikan ke ruang publik.
Menurut Antoni, pemeriksaan kesehatan memang sangat di butuhkan, namun persoalan Abu Tani tidak berhenti di situ. Lansia tersebut masih menghadapi masalah mendasar lain, mulai dari tempat tidur yang layak, pakaian, makanan, hingga fasilitas sanitasi yang memadai.
Ia berharap Dinas Sosial segera turun tangan agar Abu Tani kembali terdata sebagai penerima bantuan sosial. Selama ini, kebutuhan darurat baru bisa di topang melalui BLT Desa dengan kemampuan yang terbatas.
Kondisi Abu Tani mencerminkan potret lansia rentan di wilayah pedesaan yang kerap luput dari pendataan. Banyak di antaranya tidak memiliki keluarga pendamping, dokumen administrasi yang lengkap, atau akses informasi untuk mengurus bantuan. Tanpa sorotan publik, kasus semacam ini sering berjalan di tempat.









