Walhi Jambi: Tragedi Tambang Emas Ilegal di Limun Bukti Kelalaian Sistemik Negara

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 21 Januari 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KLIKINAJA, JAMBI – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi menegaskan bahwa insiden longsor di lokasi Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Dusun Mengkadai, Desa Temenggung, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, bukan sekadar kecelakaan kerja biasa.

Peristiwa yang terjadi pada Selasa sore (20/1/2026) itu merenggut delapan nyawa warga dan menyebabkan empat orang lainnya mengalami luka-luka.

Menurut Walhi, tragedi tersebut mencerminkan akumulasi pembiaran terhadap aktivitas tambang emas ilegal yang telah berlangsung lama tanpa pengawasan, standar keselamatan, maupun perlindungan lingkungan.

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jambi, Oscar Anugrah, menyampaikan bahwa risiko longsor merupakan ancaman yang melekat sejak awal pada praktik PETI. Aktivitas tambang ilegal di lakukan tanpa kajian lingkungan, tanpa prosedur keselamatan kerja, serta berada di luar sistem pengendalian negara.

“Jika praktik pertambangan ilegal terus di biarkan, maka jatuhnya korban jiwa hanya tinggal menunggu waktu. Tragedi ini menegaskan kegagalan negara dalam mencegah aktivitas berbahaya yang sudah lama di ketahui,” ujar Oscar.

Baca Juga :  15 Atlet Jambi Siap Bertarung di SEA Games Thailand 2025, Ini Cabang yang Diikuti

Walhi mencatat, dalam kurun waktu bertahun-tahun, PETI di Jambi telah memicu berbagai kerusakan ekologis, mulai dari degradasi hutan dan lahan, pencemaran sungai, hingga meningkatnya potensi bencana seperti banjir dan longsor. Oleh karena itu, korban jiwa akibat PETI tidak dapat di lepaskan dari lemahnya tata kelola sumber daya alam serta inkonsistensi penegakan hukum.

Oscar menilai penanganan PETI selama ini masih bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar persoalan. Penertiban di lapangan kerap di lakukan secara sporadis, namun tidak di sertai pengusutan terhadap aktor-aktor utama yang mengendalikan dan mengambil keuntungan dari aktivitas tambang ilegal.

Atas dasar itu, Walhi mendesak aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan menyeluruh dan transparan terhadap aktivitas PETI di lokasi kejadian, termasuk menelusuri pihak-pihak yang bertanggung jawab secara struktural.

Baca Juga :  Bupati Sarolangun Ingatkan Warga Siaga Cuaca Ekstrem

Selain itu, pemerintah daerah dan pemerintah provinsi di minta menghentikan praktik pembiaran serta memperkuat pengawasan di wilayah-wilayah yang selama ini menjadi titik rawan tambang ilegal.

Walhi juga menekankan pentingnya pemulihan ekosistem yang telah rusak akibat PETI guna mengurangi risiko bencana ekologis di masa depan. Negara, lanjut Oscar, harus menghadirkan kebijakan yang adil bagi masyarakat dengan menyediakan alternatif mata pencaharian yang aman, berkelanjutan, dan tidak membahayakan keselamatan maupun lingkungan.

“Pendekatan yang hanya menyasar pekerja tambang tidak akan menyelesaikan masalah. Tanpa pembenahan tata kelola dan penindakan serius terhadap aktor kunci, praktik PETI akan terus berulang dan kembali menelan korban,” tegasnya.

Oscar menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa setiap korban jiwa akibat PETI merupakan peringatan nyata atas dampak pembiaran yang terus berlangsung.

“Negara tidak boleh hanya hadir setelah tragedi terjadi. Pencegahan harus di lakukan sejak awal,” pungkasnya.(Tim)

Berita Terkait

Pria 45 Tahun di Kerinci Terseret Arus Sungai Pulau Lebar Saat Memancing
Ratusan Kepala SMA-SMK Jambi Jalani Tes Kejiwaan Februari 2026
Debit Danau Kerinci Menyusut, DPRD Panggil PLTA untuk Klarifikasi
Bupati Kerinci Hadiri Rakornas 2026 di Sentul
Pemkab Merangin Salurkan 1.700 Paket Perlengkapan Sekolah Gratis
Harga Kelapa Anjlok di Tanjabtim, Cuaca Ekstrem Tekan Panen Petani
Permukaan Danau Kerinci Menyusut Tajam, Nelayan Terjepit dan DPRD Panggil PLTA
Pemkot Jambi Kebut PSN: Sekolah Rakyat, Flyover Paal 10, dan Proyek Banjir
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 20:00 WIB

Pria 45 Tahun di Kerinci Terseret Arus Sungai Pulau Lebar Saat Memancing

Selasa, 3 Februari 2026 - 18:00 WIB

Ratusan Kepala SMA-SMK Jambi Jalani Tes Kejiwaan Februari 2026

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:00 WIB

Bupati Kerinci Hadiri Rakornas 2026 di Sentul

Selasa, 3 Februari 2026 - 12:00 WIB

Pemkab Merangin Salurkan 1.700 Paket Perlengkapan Sekolah Gratis

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:00 WIB

Harga Kelapa Anjlok di Tanjabtim, Cuaca Ekstrem Tekan Panen Petani

Berita Terbaru