KLIKINAJA – Sebuah penelitian terbaru dari Virginia Tech, Amerika Serikat, mengungkap dua jenis makanan yang paling berisiko bagi kesehatan otak manusia: daging olahan dan minuman manis ultra-proses seperti soda serta teh kemasan. Konsumsi rutin keduanya di kaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kognitif, termasuk demensia dan Alzheimer.
Sementara itu, mereka yang rutin menenggak minuman manis – termasuk soda, teh manis, atau jus kemasan- berisiko naik sekitar 6 persen.
Menariknya, konsumsi total makanan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF) secara umum tidak secara signifikan memengaruhi fungsi otak. Produk seperti camilan asin, makanan siap saji, permen, atau olahan susu ternyata tidak menunjukkan hubungan kuat dengan penurunan kognitif. Artinya, jenis makanan ultra-proses tertentu, terutama daging olahan dan minuman manis, menjadi faktor utama yang perlu di waspadai.
Profesor nutrisi manusia dari Virginia Tech, Brenda Davy, menegaskan bahwa menjaga kesehatan otak bisa di mulai dari kebiasaan makan sederhana. “Ada banyak hal yang bisa kita ubah,” ujarnya seperti di kutip Science Alert. “Kuncinya ada pada keseimbangan dan moderasi dalam memilih makanan.”
Davy menambahkan, kombinasi makanan berlemak tinggi dengan minuman manis bisa menjadi “bom ganda” bagi otak. Contohnya, pizza daging yang di santap bersama segelas cola. Kandungan garam, lemak jenuh, dan gula dalam jumlah besar dapat memicu peradangan dan merusak fungsi sel saraf.
Data penelitian juga menunjukkan bahwa 65 persen makanan dan 38 persen minuman yang di beli masyarakat Amerika pada tahun 2020 termasuk kategori ultra-proses. Produk ini umumnya mengandung zat aditif buatan seperti pewarna, pengawet, pengemulsi, dan perasa sintetis-bahan yang nyaris tak di temukan dalam masakan rumahan.
Kebiasaan ini kini merambah ke semua kelompok usia, dari remaja hingga lansia. Lebih dari setengah asupan kalori harian masyarakat modern berasal dari makanan ultra-proses. Tren tersebut menjadi perhatian serius karena dapat berkontribusi terhadap peningkatan penyakit kronis, termasuk di abetes tipe 2, penyakit jantung, dan penurunan kemampuan berpikir.
Peneliti lain dari Virginia Tech, Ben Katz, menilai bahwa pengetahuan saja tidak cukup. “Mengetahui makanan sehat hanyalah setengah dari perjuangan,” katanya. “Bagian lainnya adalah kemampuan memasak agar orang bisa menyiapkan makanan bergizi sendiri.”
Para ahli menyarankan agar kebiasaan memasak di rumah kembali di galakkan, bahkan di jadikan bagian dari program kesehatan masyarakat. Dengan cara ini, masyarakat dapat mengontrol bahan makanan yang di konsumsi dan mengurangi ketergantungan pada produk instan.
Pada akhirnya, langkah sederhana seperti memangkas konsumsi daging olahan dan mengganti minuman manis dengan air putih atau jus alami bisa menjadi investasi penting untuk menjaga daya ingat dan fungsi otak di masa depan.(tim)









