KLIKINAJA, KERINCI – Kebun Teh Kayu Aro di Kabupaten Kerinci, Jambi, kembali menarik perhatian sebagai salah satu perkebunan teh tertua dan terluas di dunia. Berada di ketinggian 1.600 mdpl, kawasan ini masih aktif memproduksi teh hitam berkualitas ekspor sekaligus menjadi destinasi wisata alam unggulan.
Kebun Teh Bersejarah di Kaki Gunung Kerinci
Hamparan hijau Kebun Teh Kayu Aro membentang luas di lereng Gunung Kerinci. Perkebunan ini sudah ada sejak masa kolonial Belanda dan dikenal sebagai satu di antara kebun teh ortodoks terbesar di dunia. Hingga kini, aktivitas produksi tetap berjalan, menjadikannya pusat penghasil teh hitam premium yang sudah lama menembus pasar mancanegara.
Untuk mencapai Kayu Aro, wisatawan biasanya menempuh perjalanan darat dari Kota Jambi yang berjarak lebih dari 450 kilometer. Rute lain juga tersedia melalui Sumatera Barat, baik dari Teluk Bayur Padang via Pesisir Selatan sekitar 325 km, maupun melalui Muara Labuh dengan perjalanan kurang lebih 237 km.
Teh Favorit Bangsawan Eropa
Kayu Aro memiliki reputasi sebagai pemasok teh hitam berkelas sejak awal berdirinya. Pada masanya, teh dari kebun ini menjadi pilihan keluarga kerajaan Belanda hingga bangsawan Inggris. Kualitas teh ortodoks yang dihasilkan dari tanaman yang tumbuh di dataran tinggi inilah yang menjadikan Kayu Aro di perhitungkan di pasar internasional.
Ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut membuat suhu udara di kebun kerap turun hingga 17°C. Udara sejuk dan pemandangan pegunungan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana tenang di tengah kebun teh.
Destinasi Wisata Alam Unggulan Kerinci, Jambi
Menurut data PTPN VI, kebun yang memiliki luas sekitar 3.020 hektare ini tidak hanya berfungsi sebagai sentra produksi teh, tetapi juga salah satu destinasi wisata alam paling populer di Kerinci, Jambi. Kombinasi antara hamparan tanaman teh, lanskap Gunung Kerinci, dan suasana pegunungan membuat setiap sudut kebun terlihat fotogenik.
Pengunjung juga dapat melihat langsung proses pemetikan teh. Aktivitas ini menjadi pengalaman menarik bagi wisatawan yang ingin merasakan rutinitas para pekerja kebun. Tak sedikit pula yang datang hanya untuk menikmati panorama sunrise dengan latar gunung tertinggi di Sumatra.
Secara produksi, Kayu Aro mampu menghasilkan sekitar 5.500 ton teh ortodoks berkualitas ekspor setiap tahun. Hasilnya dikirim ke negara-negara Timur Tengah, Amerika Serikat, hingga kawasan Eropa.
Akar Sejarah Sejak 1923
Jejak sejarah Kayu Aro bermula pada 1923 ketika penanaman pertama dilakukan oleh perusahaan kolonial NV HVA (Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging Amsterdam). Dua tahun kemudian, tepatnya 1925, pabrik pengolahan teh mulai dibangun untuk mendukung produksi.
Setelah Belanda menasionalisasi asetnya pada 1959 melalui PP No. 19/1959, pengelolaan Kayu Aro resmi berada di bawah Pemerintah Indonesia. Struktur organisasi perkebunan ini sempat beberapa kali berubah hingga akhirnya ditetapkan sebagai unit usaha PTP Nusantara VI (Persero) pada 1996 melalui PP No. 11/1996 dan SK Menkeu No. 165/KMK.016/1996.
Ikon Kebanggaan Kerinci
Berada di Desa Bedeng VIII, Kecamatan Kayu Aro Barat, kebun ini kini menjadi simbol kebanggaan masyarakat Jambi. Selain mempertahankan kualitas teh hitam kelas dunia, Kayu Aro terus berkembang sebagai tujuan wisata alam yang memadukan sejarah, keindahan alam, dan tradisi perkebunan yang masih bertahan hingga sekarang.(Tim)









