KLIKINAJA – Sorotan warga terhadap naik-turunnya debit air di Danau Kerinci akhirnya mendapat penjelasan langsung dari manajemen pembangkit listrik di wilayah Batang Merangin. Humas PT KMH Batang Merangin, Aslori, menegaskan bahwa danau tersebut bukan satu-satunya sumber air untuk operasional PLTA.
Ia menjelaskan, porsi air yang berasal dari Danau Kerinci hanya sekitar 40 persen. Selebihnya, pasokan utama datang dari aliran sungai yang membentang sepanjang Batang Merangin.
Menurut Aslori, perusahaan sempat menahan diri untuk tidak langsung merespons berbagai konfirmasi media. Langkah itu di ambil demi menghindari kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat.
“Kami sudah berkoordinasi sejak awal Januari 2026 agar informasi yang di sampaikan utuh dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat,” ujar Aslori.
Koordinasi tersebut di lakukan bersama Balai Wilayah Sungai Sumatera VI sebagai pihak teknis yang mengelola sumber daya air di kawasan itu. Dari hasil pembahasan, perusahaan memastikan bahwa fluktuasi debit air yang terjadi tidak bisa di sederhanakan sebagai dampak langsung aktivitas PLTA.
Kontribusi Danau Kerinci Hanya 40 Persen
Ia pun meluruskan anggapan yang berkembang bahwa surutnya air Danau Kerinci sepenuhnya akibat pengambilan air untuk pembangkit listrik.
“Kontribusi Danau Kerinci hanya sekitar 40 persen, selebihnya berasal dari sungai-sungai yang mengalir di sepanjang Batang Merangin,” tegasnya.
Lebih jauh, Aslori membeberkan bahwa kondisi alam menjadi faktor dominan yang memengaruhi ketersediaan air. Januari yang biasanya dikenal sebagai puncak musim hujan justru menunjukkan pola berbeda pada 2026.
“Biasanya Januari itu bulan basah, tapi tahun ini hujan jauh di bawah normal sehingga aliran masuk ke waduk turun drastis,” jelasnya.
Air dari danau serta sungai sekitar terlebih dahulu di tampung dalam waduk sebelum di alirkan ke turbin. Namun minimnya curah hujan membuat volume tampungan turun cukup tajam. Jarak sekitar 30 kilometer antara Danau Kerinci dan bendungan juga turut memengaruhi stabilitas debit yang masuk ke sistem pembangkit.
Dalam fase uji coba operasional dan pemenuhan pasokan listrik, PLTA sempat mengaktifkan volume air hingga kurang lebih 9 juta meter kubik. Kondisi itu berdampak pada penurunan elevasi permukaan air dari kisaran +745 meter menjadi sekitar +730 meter.
Meski terlihat signifikan, manajemen memastikan langkah tersebut tetap berada dalam koridor pengendalian hidrologi. Aslori menekankan bahwa buka-tutup pintu air di lakukan bukan untuk menguras danau.
“Pintu air di buka dan di tutup semata-mata untuk pengendalian debit, terutama jika ada potensi banjir atau lonjakan air ekstrem,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat melihat persoalan ini secara lebih utuh. Fenomena penurunan debit, baik di danau maupun waduk, lebih di picu oleh dinamika cuaca dan siklus alam.
“Penurunan debit baik di danau maupun waduk murni karena faktor hidrologi dan cuaca, bukan karena PLTA mengambil air secara berlebihan,” pungkas Aslori.
Secara umum, para ahli sumber daya air memang menilai bahwa pembangkit listrik tenaga air sangat bergantung pada pola hujan musiman. Ketika curah hujan turun di bawah rata-rata, inflow ke waduk otomatis menurun meski pengelolaan di lakukan sesuai prosedur teknis. Kondisi seperti ini kerap terjadi saat muncul anomali iklim regional.
Di sisi lain, transparansi informasi menjadi kunci menjaga kepercayaan publik. Penjelasan terbuka dari operator PLTA dan otoritas sungai di harapkan mampu meredam spekulasi, sekaligus mendorong pemahaman bahwa fluktuasi debit air bukan selalu identik dengan eksploitasi berlebihan.(Tim)









