KLIKINAJA, BARANG HARI – Kabupaten Batanghari dikenal sebagai salah satu wilayah terluas di Provinsi Jambi sekaligus daerah dengan pertumbuhan penduduk yang cukup pesat. Di balik dinamika tersebut, daerah yang beribu kota di Muara Bulian ini menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat. Sejumlah hidangan turun-temurun masih bertahan hingga kini dan kerap diburu wisatawan yang ingin merasakan cita rasa khas Jambi.
Terletak di area seluas sekitar 5.804 kilometer persegi dan dihuni lebih dari 241 ribu jiwa, Batanghari juga dilintasi Sungai Batanghari—sungai terpanjang di Sumatera yang sejak lama menjadi pusat kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat. Sungai ini tidak hanya berperan sebagai jalur transportasi, tetapi juga mempengaruhi karakter kuliner daerah tersebut.
Berikut deretan makanan tradisional Batanghari yang masih eksis dan kian digemari.
1. Tepek Ikan, Hidangan Kenyal Bersejarah
Salah satu makanan yang paling sering disebut ketika membahas kuliner Batanghari adalah Tepek Ikan. Kudapan bertekstur lembut ini dibuat dari campuran daging ikan dan sagu, kemudian dibentuk menyerupai jajar genjang sebelum dimasak. Nama “tepek” muncul dari proses pemipihan adonan yang menjadi ciri khas pembuatannya.
Pada masa lalu, Tepek Ikan hanya hadir dalam upacara adat atau perayaan tertentu karena penjualnya semakin jarang ditemukan. Kini, kuliner ini masih bisa dijumpai di beberapa titik, terutama di kawasan Tahtul Yaman dan Olak Kemang. Rasa gurih dan aromanya yang khas membuat Tepek Ikan tetap menjadi favorit para pecinta makanan tradisional.
2. Tempoyak Patin, Perpaduan Rasa Fermentasi Durian
Kuliner lain yang hampir selalu disarankan kepada wisatawan adalah Tempoyak Patin. Hidangan ini memadukan ikan patin dengan tempoyak fermentasi daging durian yang memberikan rasa asam dan aroma kuat.
Tempoyak dibuat dengan memisahkan daging durian dari bijinya, menambahkan garam, lalu menyimpannya dalam wadah tertutup selama sekitar satu minggu. Hasil fermentasi ini kemudian dimasak bersama ikan patin dan beragam bumbu rempah. Sekilas kuahnya mirip pindang, tetapi rasanya jauh lebih kompleks: asam, pedas, dan harum. Tempoyak Patin biasanya disantap dengan nasi putih hangat untuk memperkukuh cita rasanya.
3. Nasi Gemuk, Menu Sarapan Paling Dicari
Bagi masyarakat Batanghari, Nasi Gemuk sudah lama menjadi pilihan sarapan favorit. Popularitasnya tercatat sejak tahun 1970-an, meski asal penamaannya tak terdokumentasi secara jelas. Meski sepintas mirip nasi uduk, Nasi Gemuk menggunakan santan lebih banyak sehingga menghasilkan tekstur lebih lembut dan aroma yang lebih wangi.
Menu ini umumnya disajikan bersama lauk pelengkap seperti telur rebus, ayam kari, ikan teri dengan kacang goreng, atau kari sapi. Kandungan rempah dan gurihnya santan membuat Nasi Gemuk terasa mengenyangkan sekaligus memanjakan lidah.
4. Gulai Talang, Masakan Rumahan yang Melegenda
Kuliner khas lain yang tak kalah populer adalah Gulai Talang. Hidangan ini kerap disebut sebagai makanan perantau karena banyak warga Batanghari yang merindukannya saat tinggal di luar daerah. Nama “talang” diduga berasal dari kebiasaan masyarakat zaman dulu memasak gulai ini saat pergi berkebun atau bertandang ke ladang.
Bahan-bahan Gulai Talang umumnya mudah ditemukan di kebun, sehingga hidangan ini berkembang sebagai makanan praktis yang hangat dan kaya rasa. Hingga kini, aroma rempahnya yang kuat masih menjadi ciri utama gulai ini dan membuatnya tetap digemari lintas generasi.
Kekayaan kuliner Batanghari menunjukkan bahwa daerah ini tidak hanya memiliki sejarah panjang, tetapi juga budaya kuliner yang kuat dan beragam. Setiap hidangan menyimpan cerita tersendiri dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat. Dengan potensi wisata yang semakin berkembang, kuliner-kuliner tradisional Batanghari diyakini akan semakin dikenal luas oleh pengunjung dari berbagai daerah.(Tim)









