KLIKINAJA – Tradisi menyambut Ramadan kembali menggema di Inderapura, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, beberapa waktu yang lalu. Upacara adat Patang Balimau yang di gelar masyarakat setempat berlangsung khidmat dan penuh makna, di hadiri Wakil Wali Kota Sungai Penuh, Azhar Hamzah, bersama Ketua GOW Mawarti Azhar.
Kehadiran orang nomor dua di Kota Sungai Penuh itu menjadi penegas bahwa pelestarian adat bukan sekadar seremoni tahunan. Pemerintah daerah di nilai memiliki peran strategis dalam menjaga denyut budaya yang telah tumbuh ratusan tahun di tengah masyarakat Minangkabau.
Sakralnya Prosesi Patang Balimau
Patang Balimau di kenal sebagai ritual penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Tradisi ini dilakukan sebagai simbol pembersihan lahir dan batin, sekaligus pengingat agar umat mempersiapkan diri secara spiritual.
Prosesi adat di Inderapura di ikuti ninik mamak, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan warga dari berbagai kalangan. Kebersamaan yang terbangun selama rangkaian acara memperlihatkan betapa kuatnya peran adat dalam struktur sosial masyarakat setempat.
Ritual ini tidak hanya berbicara soal nilai religius, tetapi juga menyatukan berbagai elemen nagari dalam satu ruang kebudayaan. Momentum seperti ini menjadi pengikat yang menjaga harmoni sosial di tengah perubahan zaman.
Apresiasi dan Harapan untuk Generasi Mendatang
Dalam sambutannya, Azhar Hamzah menyampaikan rasa hormat kepada Kerapatan Nagari Inderapura dan seluruh masyarakat yang konsisten merawat tradisi tersebut. Ia menilai Patang Balimau memiliki arti lebih dari sekadar agenda adat tahunan.
“Tradisi seperti ini harus terus di jaga agar tetap hidup dan relevan. Selain memperkuat nilai spiritual menjelang Ramadan, kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga,” ujarnya.
Menurutnya, keberlanjutan tradisi sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat. Warisan budaya, jika di rawat dengan sungguh-sungguh, akan menjadi identitas yang membedakan suatu daerah sekaligus kebanggaan generasi penerus.
Di tengah arus globalisasi, banyak tradisi lokal mulai tergerus. Namun di Inderapura, Patang Balimau tetap berdiri sebagai simbol ketahanan budaya. Dukungan dari pemerintah daerah turut memberi ruang agar adat dan perkembangan zaman berjalan berdampingan tanpa saling meniadakan.
Bagi masyarakat Inderapura, Patang Balimau bukan hanya seremoni menyambut Ramadan. Ia adalah ruang silaturahmi, refleksi, dan penguatan nilai kebersamaan yang di wariskan turun-temurun.(Tim)









