KLIKINAJA, KERINCI – Kariati (57) sudah sekian lama tinggal seorang diri di rumahnya yang sederhana di kawasan Sungai Tutung. Hidup tanpa pendamping membuat hari-harinya tak mudah, terlebih dengan kondisi kesehatan yang terus menurun akibat gagal ginjal yang ia alami.
Penyakit tersebut menuntut pengobatan rutin serta biaya medis yang tidak kecil, sementara ia tidak memiliki kemampuan finansial untuk menanggung seluruh kebutuhan perawatan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kariati bertahan hanya dengan apa yang ia miliki. Ia sempat menjalani terapi secara berkala, namun pengobatan itu terhenti karena keterbatasan biaya. Kondisinya pun semakin melemah hingga akhirnya harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Kota Sungai Penuh untuk mendapatkan penanganan intensif. Keluarga tidak lagi ada di sisinya, sehingga ia benar-benar mengandalkan uluran tangan masyarakat.
Kabar mengenai kondisi Kariati menyentuh hati banyak pihak. Warga Desa Taman Jernih, para pemuda, hingga perantau Sungai Tutung yang berada di Malaysia tergerak untuk saling membantu. Upaya penggalangan dana pun di lakukan dari kampung hingga luar negeri demi melanjutkan pengobatan Kariati. Aparat Babinsa turut mendukung proses pengumpulan bantuan agar penanganan kesehatan bagi Kariati tidak terputus.
Meski bantuan terus mengalir, jumlah dana yang terkumpul masih belum mencukupi untuk biaya jangka panjang. Apalagi penyakit gagal ginjal membutuhkan penanganan berkala, mulai dari terapi, obat, hingga berbagai kebutuhan medis lainnya. Tanpa pendamping dan kemampuan ekonomi memadai, perjuangan Kariati masih panjang.
Kepala Desa Taman Jernih, Ade Haryono, membenarkan bahwa warganya tersebut sangat membutuhkan perhatian lebih. Ia menuturkan bahwa pemerintah desa, masyarakat, dan para pemuda terus melakukan berbagai upaya agar pengobatan Kariati tidak berhenti. Menurutnya, kondisi Kariati semakin lemah dan sangat perlu dukungan moral serta materi agar ia dapat kembali menjalani terapi secara rutin.
“Ibu Kariati tinggal seorang diri, sementara keadaan fisiknya semakin menurun. Kami bersama pemuda, masyarakat, dan Babinsa sudah berusaha mengumpulkan donasi, tapi kebutuhan biaya perawatan masih jauh dari cukup,” ungkap Ade Haryono.
Solidaritas warga menjadi harapan terbesar bagi Kariati untuk tetap bertahan menjalani perawatan. Hingga berita ini di terbitkan, donasi masih dibuka dan masyarakat luas di imbau ikut serta menyisihkan rezeki, sekecil apa pun. Setiap kontribusi dianggap sangat berarti untuk memperpanjang langkah Kariati dalam melawan penyakitnya.
Situasi ini menjadi potret nyata tentang pentingnya kepedulian sosial terhadap para lansia yang tidak lagi memiliki keluarga ataupun dukungan ekonomi. Kariati adalah satu dari banyak warga dhuafa yang masih membutuhkan tangan-tangan yang ingin membantu. Harapan untuk sembuh mungkin tampak berat, tetapi kepedulian bersama dapat menjadi jalan bagi Kariati untuk mendapatkan penanganan medis yang layak.
Bagi warga atau donatur yang ingin berpartisipasi, bantuan dapat di kirimkan melalui BRI – 555901022390530 atas nama Reka Afriani. Setiap rupiah yang terkumpul akan membantu memperpanjang harapan dan memperbaiki kondisi kesehatan Kariati.(Dea)









