KLIKINAJA – Aktivitas belajar di SMPN 2 Sungai Penuh mendadak terhenti setelah kobaran api melanda kompleks sekolah tersebut, Kamis (19/2/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. Tujuh ruangan di laporkan terdampak, terdiri dari enam ruang kelas dan satu kantin.
Asap pertama kali terlihat mengepul dari lantai dua salah satu bangunan. Dalam tempo singkat, api membesar dan menjalar ke ruangan lain. Guru dan siswa segera dievakuasi, sementara warga sekitar ikut panik menyaksikan kobaran api yang membubung cukup tinggi.
Api Muncul dari Lantai Dua, Sekolah Dievakuasi
Sejumlah saksi mata menyebut kepulan asap tampak pekat sebelum api terlihat jelas dari jendela lantai atas. Aktivitas belajar langsung dihentikan demi keselamatan seluruh penghuni sekolah. Beruntung, proses evakuasi berlangsung cepat sehingga tidak ada korban jiwa.
Tim dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Sungai Penuh bersama Satpol PP datang membawa enam unit mobil pemadam. Petugas menyemprotkan air secara bergantian untuk membatasi rambatan api agar tidak menjalar ke bangunan lain di area sekolah.
Kepala Dinas Damkar dan Satpol PP Sungai Penuh, Dafri Dailami, menegaskan kecepatan respons menjadi faktor penentu. Ia menyampaikan bahwa api berhasil di jinakkan kurang lebih dalam 15 menit sejak penanganan intensif di lakukan, sehingga kerusakan tidak meluas ke gedung lain.
Polisi dan Tim Forensik Selidiki Penyebab
Aparat dari Polsek Sungai Penuh langsung mengamankan lokasi kejadian. Kapolsek Awaludin menjelaskan, petugas mengatur kerumunan warga, menjaga area tetap steril, serta membantu proses pengamanan siswa dan guru.
Tim identifikasi dari Polres Kerinci kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara guna mencari sumber api. Hingga saat ini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
Belum ada laporan korban luka maupun korban jiwa. Namun, kerugian material masih di hitung oleh pihak sekolah bersama instansi terkait. Bangunan yang terdampak akan di periksa lebih lanjut sebelum kembali di gunakan.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya sistem mitigasi kebakaran di lingkungan pendidikan. Sekolah dengan aktivitas padat dan instalasi listrik yang di gunakan hampir sepanjang hari memiliki risiko tersendiri apabila tidak di sertai pemeriksaan rutin.
Audit instalasi listrik, penyediaan alat pemadam api ringan (APAR), serta simulasi evakuasi berkala dapat meminimalkan dampak ketika insiden terjadi.
Di sejumlah daerah, kasus kebakaran sekolah kerap di picu korsleting listrik atau kelalaian penggunaan peralatan elektronik. Karena itu, investigasi menyeluruh di perlukan agar penyebab pasti dapat di ketahui dan langkah pencegahan bisa di terapkan secara konkret.
Pemerintah daerah memastikan proses belajar mengajar akan kembali berjalan setelah kondisi di nyatakan aman. Prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan siswa serta pemulihan fasilitas pendidikan yang terdampak.(Tim)









