KLIKINAJA – TNI mengerahkan armada drone kargo untuk mempercepat distribusi logistik bagi korban banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Teknologi udara ini dipilih sebagai solusi ketika akses darat putus dan medan di nilai berisiko bagi kendaraan berat.
Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Freddy Ardianzah, menyampaikan bahwa peralatan yang di pakai merupakan drone multirotor berkapasitas angkut bantuan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi percepatan penanganan bencana, baik untuk dukungan udara maupun pemantauan wilayah.
Pengiriman Bantuan Lebih Cepat Tanpa Halangi Akses Darat
Freddy menegaskan bahwa drone memungkinkan bantuan menjangkau lokasi-lokasi yang sebelumnya sulit di tembus. Rantai distribusi yang biasanya memerlukan waktu panjang kini dapat dipangkas lebih efisien karena tidak lagi bergantung pada jalur darat yang banyak mengalami kerusakan.
Menurutnya, penggunaan drone bukan hanya sekadar metode alternatif, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pengiriman bantuan dalam situasi darurat. Alat ini digunakan untuk membawa barang kebutuhan ringan seperti makanan siap konsumsi, obat-obatan, hingga perlengkapan darurat bagi pengungsi.
Freddy menyebutkan bahwa pengoperasian drone di desain untuk mendukung percepatan distribusi bantuan sekaligus memantau kondisi lapangan secara real time.
“Drone difokuskan menjangkau area yang akses daratnya terputus akibat longsor atau banjir. Metode ini memungkinkan bantuan di kirim lebih cepat dan meminimalisi risiko bagi tim darat,” ujarnya.
Bukan Hanya Drone: TNI Turunkan Hercules hingga Helikopter
Selain memaksimalkan drone kargo, TNI juga mengerahkan pesawat angkut besar seperti Hercules, Airbus, CN, hingga helikopter untuk menjangkau wilayah terdampak dengan kebutuhan logistik lebih besar. Armada udara ini bergerak secara paralel, memastikan bantuan tiba sesuai prioritas masing-masing titik bencana.
Freddy menjelaskan bahwa drone kargo di arahkan khusus untuk pengiriman muatan ringan, misi pemetaan situasi, hingga mendukung tim pencarian dan pertolongan (SAR). Pengoperasiannya tetap mengutamakan prosedur keselamatan penerbangan dan keamanan warga di lokasi terdampak.
Distribusi menggunakan berbagai moda penerbangan ini menjadi bukti bahwa TNI terus berupaya mengoptimalkan seluruh kemampuan yang tersedia. Tujuannya jelas: mempercepat bantuan agar korban mendapat kebutuhan dasar tanpa harus menunggu jalur transportasi pulih.
Teknologi Udara Jadi Harapan Baru Tanggap Darurat
Pemanfaatan sistem udara tanpa awak dalam penanganan bencana menunjukkan perkembangan signifikan dalam strategi evakuasi dan penyaluran logistik di Indonesia. Inovasi seperti ini di nilai mampu memberikan respons darurat yang lebih cepat, terutama ketika cuaca ekstrem menghambat mobilisasi unit di lapangan.
Ke depan, penggunaan drone di harapkan menjadi standar tambahan dalam operasi tanggap darurat nasional. Dengan dukungan armada besar serta fleksibilitas drone jarak pendek, distribusi bantuan di daerah rawan bencana dapat berlangsung lebih terukur dan efisien.
TNI memastikan koordinasi dengan pemerintah daerah dan lembaga kemanusiaan terus berjalan. Percepatan bantuan menjadi fokus utama agar warga terdampak dapat bertahan hingga akses transportasi normal kembali.(Tim)









